Rabu, 07 April 2010

Kearifan Lokal dalam Pertanian

Pemuliaan Benih

Rabu, 10 Maret 2010 | 16:41 WIB

oleh Harjoko Sangganagara

Salah satu indigenous yang masih relevan dan signifikan untuk menghadapi krisis pangan adalah budaya pemuliaan benih tanaman. Sayangnya, indigenous atau kearifan dan pengetahuan tradisional itu kini semakin tergilas oleh kebijakan impor benih tanaman pangan dari luar negeri.

Program food estate dengan cara membuka ribuan hektar lahan untuk tanaman pangan di luar Pulau Jawa tanpa menumbuhkan budaya pemuliaan benih merupakan paradoks. Pasalnya, masih banyak lahan kritis dan terbengkalai serta pekarangan rumah rakyat di Pulau Jawa yang belum tergarap secara baik. Hal itu semestinya bisa menjadi lumbung pangan yang luar biasa jika kondisinya berkecukupan benih.

Sekadar gambaran, di Provinsi Jawa Barat saja masih ada sekitar 400.000 hektar lahan kritis yang potensial untuk ditanami tanaman pangan. Masalahnya, bagaimana pemerintah menyediakan benih unggul dan mendorong budaya pemuliaan benih. Nasib program food estate yang kini tengah digembar-gemborkan pemerintah bisa seperti program percetakan sejuta hektar sawah pada era rezim Orde Baru. Program sejuta hektar sawah yang menggunakan area tanah gambut di Pulau Kalimantan terbukti gagal dan menyengsarakan ribuan keluarga petani penggarap.

Sebagai negara agraris, bangsa ini seharusnya memiliki kemajuan dalam rekayasa perbenihan. Kemajuan itu ditandai dengan kemampuan pemerintah membagibagikan secara gratis benih unggul apa saja kepada rakyat luas. Dengan langkah itu, program ketahanan pangan keluarga akan terwujud. Sayangnya, hingga kini masalah benih belum menjadi prioritas utama. Buktinya, hingga kini Indonesia masih sangat tergantung pada impor benih padi hibrida dari China. Ketergantungan benih padi dalam situasi perdagangan bebas ASEAN-China bisa mengakibatkan serbuan beras murah dari China.

Pemerintah semestinya menggalakkan program optimalisasi atau pemanfaatan lahan pekarangan untuk meningkatkan gizi dan memperkuat ketahanan pangan keluarga. Masih banyak pekarangan rumah rakyat yang dibiarkan kosong melompong karena kesulitan mendapatkan benih tanaman pangan. Dengan tersedianya aneka benih yang dibagikan secara gratis kepada rakyat, setiap jengkal pekarangan rakyat akan menjadi produktif.

Harus ada kesadaran kolektif bahwa perkara pemuliaan benih sebenarnya bukan hanya urusan lembaga riset pemerintah atau perguruan tinggi. Masyarakat harus pula dilibatkan secara aktif. Sejarah mencatat bahwa rakyat biasa pun mampu melakukan pemuliaan benih. Contohnya, Pak Mukibat yang berhasil menemukan benih singkong unggul. Apalagi, nenek moyang kita juga mewariskan budaya pemuliaan benih.

Tradisi "ngareremokeun"

Kesadaran memuliakan benih tanaman sebenarnya telah diwariskan nenek moyang kita. Salah satu warisan indigenous itu antara lain terlihat dalam tradisi ngareremokeun. Tradisi itu adalah upacara dalam tradisi Sunda Wiwitan yang hingga kini masih dilaksanakan di daerah Kanekes Baduy. Konten tradisi tersebut adalah mengawinkan tanaman padi. Upacara yang sakral tersebut dianggap sebagai momentum bertemunya energi hidup dari Sang Hyang Asri Pohaci.

Dalam sistem masyarakat Sunda Wiwitan aktivitas hidup yang utama adalah ngahuma (berladang). Ngahuma bukan sekadar mata pencarian, melainkan demi melestarikan kehidupan Nyi Pohaci yang setiap tahun harus halimpu (kawin) dengan bumi. Warisan indigenous leluhur Sunda itu semestinya diartikulasikan oleh generasi saat ini dalam wujud kemajuan rekayasa atau teknologi perbenihan.

Ironisnya, hingga saat ini rakyat masih saja kesulitan memperoleh benih unggul. Bahkan, sebagian besar varietas benih dibanderol dengan harga tinggi karena merupakan barang impor. Akibatnya, rakyat menanami lahan pekarangannya dengan benih asal-asalan. Hasil produksi tanaman pekarangan tidak bisa optimal. Begitu pula waktu berbuah atau masa panen kelewat panjang.

Semestinya kita belajar dari keberhasilan rakyat China yang berhasil memanfaatkan setiap jengkal halaman rumahnya dengan tanaman jeruk. Jeruk itulah yang kini membanjiri pasar Indonesia dengan harga relatif lebih murah. Pemerintah China semakin gencar membagi- bagikan berbagai benih unggul kepada rakyatnya secara gratis. Selain itu, sering juga dilakukan kontes tanaman pekarangan unggul di tingkat desa hingga nasional. Dengan kegiatan seperti itu rakyat merasa terpacu mengoptimalkan lahannya. Kegiatan tersebut juga semakin menyadarkan berbagai pihak untuk memuliakan benih unggul.

Di sisi lain, kesadaran bangsa ini dalam hal pemuliaan benih masih memprihatinkan. Ketersediaan benih unggul tanaman secara nasional ataupun daerah sering kedodoran. Kondisinya lebih menyedihkan karena kini banyak balai benih yang tidak berfungsi secara normal karena salah urus. Semestinya beberapa balai benih yang tersebar di beberapa daerah, seperti Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat, bisa menjadi solusi pengadaan benih unggul. Hasil pemuliaannya bisa disebarkan kepada masyarakat Jabar.

Namun, kenyataannya kini kondisi balai semacam itu sangat memprihatinkan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar kebutuhan benih, baik untuk tanaman pangan maupun tanaman perkebunan, tidak bisa terpenuhi. Semestinya ada insentif dan injeksi permodalan untuk investasi di industri perbenihan. Seperti di beberapa negara, dari hulu hingga hilir industri benih diberi insentif secara kontinu.

Harus serius

Bangsa Indonesia hendaknya serius menghadapi masalah benih. Apalagi, data menunjukkan bahwa setiap tahun petani padi hanya menggunakan sekitar 40 persen benih bersertifikat dari kebutuhan total nasional. Begitu pula kebutuhan benih untuk tanaman perkebunan juga sulit dipenuhi oleh produksi benih di dalam negeri. Dari 250 juta butir benih kelapa sawit yang diperlukan, hanya dapat disediakan 120 juta butir per tahun.

Tanaman karet jauh lebih memprihatinkan. Dari kebutuhan minimal 35 juta bibit klon karet untuk peremajaan, yang dapat disuplai hanya 4-5 juta benih klon karet. Padahal, sekarang ini sekitar 80 persen perkebunan karet berumur tua. Hal itu berdampak terhadap rendahnya produksi.

Melihat kondisi di atas semestinya kredo pembangunan pertanian dari pemerintah pusat hingga daerah adalah fokus terhadap usaha pemuliaan benih. Dengan kredo itu, jalan ke arah kemakmuran yang sejati akan terbentang. Pemerintah daerah harus segera membuat terobosan dan membenahi tempat atau balai-balai perbenihan.

Budaya pemuliaan benih juga harus dibangkitkan kembali di tengah masyarakat. Apalagi, dinamika teknologi produksi benih di luar negeri berkembang pesat. Di sisi lain produsen benih lokal dalam kondisi kian terpuruk karena lambat mengadopsi perkembangan teknologi akibat kendala informasi dan kurangnya dana. HARJOKO SANGGANAGARA Budayawa

1 komentar:

khani mengatakan...

mampir nich...
oh ea,, ada sedikit info tentang kayu jabon.mungkin pernah denger tentang kayu jabon ok.. SALAM.....