Jumat, 20 Maret 2009

Dicari : PRESIDEN KEBUDAYAAN SUNDA


Pentingnya eksistensi Presiden Kebudayaan Sunda agar nilai-nilai budaya di bumi Parahyangan tidak merana ditelan jaman. Juga perlunya melindungi Budaya Sunda dari penguasa yang bersikap TUNA BUDAYA

Ayo, Bebaskan Budaya Sunda dari Penindasan Struktural !!!


Menyikapi Estetika Jaipongan Secara Arif

Oleh HARJOKO SANGGANAGARA
*) Budayawan, Peserta Program S-3 Sekolah Pascasarjana UPI Bandung


Dalam situasi krisis sekarang ini industri kreatif atau industi budaya mestinya dijadikan katup penyelamat, sumber motifasi dan hiburan segar bagi masyarakat. Ironisnya, komitmen Gubernur Jawa Barat terhadap seni budaya Sunda justru sangat tipis dan tidak arif. Hal itu terlihat dari tindakan Gubernur Ahmad Heryawan baru-baru ini yang mengekang seni tari tradisi Jaipongan. Gubernur menuntut agar busana penari jaipongan tertutup rapat sehingga tidak terlihat pundak dan lehernya. Selain itu, unsur 3G (Goyang,Geol,Gitek ) yang menjadi pesona sekaligus merupakan roh tarian Jaipongan supaya diperhalus. Jika tuntutan Gubernur itu dipenuhi, bisa-bisa roh tarian Jaipongan akan hilang. Sehingga seni tari tradisi itu akan berubah menjadi tarian Pocong. Merubah olah gerak dan menutup rapat busana penari Jaipongan bisa-bisa seperti pocong yang geraknya serba terbatas.
Sebelum memvonis dan mengecam tari pergaulan masyarakat Jawa Barat yang sekaligus menjadi aset Pasundan itu, mestinya Gubernur mencoba dahulu ngibing Jaipongan bersama masyarakat. Lewat ngibing itulah Gubernur bisa melihat dan merasakan estetika Jaipongan sehingga bisa bersikap arif dan toleran terhadap seni budaya. Memahami estetika juga akan menepis sikap paranoid terhadap penari Jaipongan. Penting untuk direnungkan pendapat mengenai estetika yang dirumuskan oleh Clive Bell, bahwa keindahan hanya dapat ditemukan oleh orang yang dalam dirinya sendiri telah memiliki pengalaman sehingga dapat mengenali wujud bermakna dalam satu benda atau karya Seni tertentu dengan getaran atau rangsangan keindahan. Istilah Estetika dipopulerkan oleh Alexander Gottlieb Baumgarten yang kemudian berkembang menjadi ilmu tentang keindahan.
Tak bisa dimungkiri, biasanya penari Jaipongan itu rata-rata masih muda dan berparas cantik. Sebagai suatu bentuk performance art, tari Jaipongan menjadikan santapan estetis tersendiri bagi siapa saja yang menyaksikan. Nilai estetis ini terdapat pada keharmonisan dan keselarasan antara gerak dan ritme, khususnya antara gerak dan irama kendang. Sinergitas antara gerak dan ritme ini menjadikan tari Jaipongan tampil lebih menggetarkan sukma. Nilai estetis tari Jaipongan akan muncul apabila penarinya juga menjiwai dan mampu mengekspresikan dengan baik sehinga muncul ungkapan tari yang memesona. Standarisasi busana dan rias pada tari Jaipongan mempunyai peran yang mendukung ekspesi tari dan faktor penting untuk suksesnya pertunjukan sehingga tidak perlu dirubah menjadi serba tertutup rapat.
Dari kacamata Etnokoreologi, Jaipongan merupakan disiplin ilmu tari etnis. Yang berbasis pola gerak tari tradisi yang sudah ada sebelumnya seperti Kliningan, Bajidoran dan Ketuk Tilu. Pola gerak seperti bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas sangat mewarnai kreasi Jaipongan selanjutnya. Pada awalnya struktur tari Jaipongan sangat sederhana seperti halnya tari Ketuk Tilu yang merupakan tari pergaulan. Karena kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan. Kreasi Jaipongan pertama yang mulai dikenal oleh masyarakat adalah tari Daun Pulus, Keser, Bojong dan Rendeng Bojong yang keduanya merupakan jenis tari putri dan tari berpasangan.
Mestinya, para pejabat pemerintah daerah Jawa Barat sekarang ini berterima kasih kepada sang kreator yang telah berhasil mentransformasikan seni tari etnik seperti Ketuk Tilu, Ronggeng, Bajidoran, dan lain-lain menjadi versi Jaipongan yang sangat popular dan aplikatif untuk segala usia dan bermacam etnik. Sejak awal delapan puluhan Jaipongan telah menjadi mesin gairah dan pemompa semangat rakyat. Semua kalangan juga bisa mendapat kesempatan dan bisa mereguk kepuasan gerak tari Jaipongan. Selain itu, dari aspek ekonomi banyak orang yang mendapatkan penghasilan dengan adanya pentas Jaipongan. Banyak grup tari yang bermunculan, sinden-penari, para pedagang, bahkan juga banyak pihak lain yang kecipratan rezeki karena pertunjukan Jaipongan. Sungguh ironis dan menyedihkan, pada era sekarang ini Jaipongan justru semakin meredup. Jaipongan semakin teraleniasi dan tertindas di kampung halamannya sendiri.

Kabupaten Bandung Barat Menuju Negeri Harapan yang Makmur Sejahtera


Mewujudkan Bandung Barat Smart Infrastruktur

Oleh HARJOKO SANGGANAGARA


Berbagai persoalan yang mendera Kabupaten Bandung Barat sebaiknya diselesaikan dengan solusi teknologi terkini. Solusi itu membutuhkan infrastruktur digital terpadu yang berbentuk smart infrastruktur. Pada prinsipnya Bandung Barat Smart Infrastruktur ( BBSI ) merupakan sistem City Area Network ( CAN ). Yang berbentuk wahana komunikasi terpadu dalam wujud voice, video dan data yang menghubungkan data center dengan berbagai SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dan fasiltas umum dengan menggunakan peralatan monitoring. Seperti CCTV, sensor polusi, serta peralatan komputer beserta pendukung lainnya. Selain itu BBSI juga mencakup sistem pengelolaan kependudukan, kepegawaian, pendapatan daerah, even olah raga dan business services, baik melalui website maupun melalui kehadiran di pusat layanan satu atap. Infrastruktur yang berupa jaringan itu diharapkan juga mampu menjadi sistem monitoring yang digunakan untuk memantau arus lalu lintas, pusat perdagangan, even olah raga, rumah sakit, cuaca, dan lain-lain.
Untuk mewujudkan BBSI diperlukan inovasi teknologi produk lokal namun berstandar internasional. Dan perlunya pemberian insentif berupa pengurangan pajak bagi perusahaan yang telah mengadakan riset di bidang TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) yang mendukung terwujudnya BBSI. Untuk digarisbawahi, BBSI yang merupakan prinsip kota cyber harus dirancang sesuai dengan proyeksi dan standarisasi pemerintah pusat. Dimana konsepnya menggambarkan kawasan dengan infrastruktur teknologi informasi yang memadai baik dari sisi konektivitas jaringan terpadu, kapasitas bandwidth, Internet nirkabel dan kabel, infrastruktur serat optik serta sarana pusat riset yang melibatkan perguruan tinggi dan pengusaha swasta. BBSI juga harus mampu mempertemukan penyedia infrastruktur TIK atau aplikasinya dengan para konsumen dari berbagai segmen dan aneka industri. Diharapkan kawasan pemukiman modern Kota Baru Parahyangan bisa menjadi stimulus cyber estate sekaligus embrio bagi perwujudan BBSI. Konsep cyber estate lebih realistis dan menguntungkan karena produsen aplikasi TIK bisa langsung memasarkan atau menguji produknya dalam satu kawasan. Berkaitan dengan aktivitas riset TIK, sebaiknya sejak dini pemerintah Kabupaten Bandung Barat gencar menawarkan lahan kepada perusahaan internasional dan lokal untuk membangun pusat risetnya.
Tak bisa dimungkiri bahwa penduduk Kabupaten Bandung Barat yang berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa yang tersebar di 15 Kecamatan membutuhkan sistem pengelolaan data kependudukan dan potensi daerah dengan tingkat reliabilitas atau keandalan yang tinggi. Hal ini untuk menghindari kesalahan dalam pengambilan keputusan maupun kekeliruan dalam mengantisipasi masalah sosial-ekonomi. Betapa pentingnya meningkatkan reliabilitas data kependudukan. Sehingga setiap saat dalam kondisi apapun data tersebut bisa diakses dan diperbaharui secara cepat dan cermat. Sehingga tercipta efektifitas pelayanan data kependudukan beserta derivatifnya secara optimal. Aspek TIK bisa memperbaiki berbagai praktik pelayanan publik dalam kondisi normal maupun darurat. Selain itu berbagai potensi di 15 Kecamatan yang sangat beragam bisa diintegrasikan dengan sebuah sistem yang berbasis internet yang lazim disebut e-Government (e-Gov). Dengan sistem itu milestone proses pengelolaan wilayah dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Yang tidak boleh dilupakan bahwa BBSI juga memiliki fungsi yang penting untuk menunjang operasionalisasi Sarana Olah Raga ( SOR ) bertaraf dunia untuk penyelenggaraan even olah raga regional, nasional, bahkan internasional. Hal itu karena daerah ini memiliki fasilitas infrastruktur pengairan yang sangat memadai, yang berhubungan dengan olah raga air seperti: wind surfing, dayung, ski air dan lain-lain. Keberadaan infrastruktur pengairan dalam bentuk waduk atau bendungan itu juga terkait erat dengan kegiatan rekreasi saat pasca pesta olah raga dan menjadi salah satu daya tarik untuk pertumbuhan ekonomi. Berbagai kajian juga telah merekomendasikan bahwa lokasi SOR terpadu propinsi Jabar yang berkaitan dengan jenis oleh raga air, gunung dan sejenisnya sebaiknya berada di Kabupaten Bandung Barat.

Kamis, 18 Desember 2008

Perguruan tinggi di Indonesia semakin mirip dengan hotel berbintang dan kehilangan fungsi sosialnya.




UU BHP dan Fenomena Arne Duncan

Oleh : HARJOKO SANGGANAGARA



Pendidikan menjadi kunci kemajuan dan cara terbaik untuk meningkatkan martabat bangsa. Namun, pengesahan UU BHP ( Badan Hukum Pendidikan ) justru membuat rakyat semakin ketar-ketir. Pasalnya, UU itu dikawatirkan mendorong lembaga pendidikan semakin komersial dan mahal. Lembaga pendidikan, utamanya perguruan tinggi akan menjelma menjadi “monster” yang kejam bagi rakyat kecil. Jika dicermati, pasal-pasal dalam UU BHP mencerminkan adanya reduksi tanggung jawab pemerintah dalam mengelola pendidikan nasional. Padahal, pengembangan profesi pendidik, standarisasi sekolah hingga infrastruktur masih amburadul disana-sini. Apalagi, esensi pengembangan sistem pendidikan nasional telah tertimbun oleh jargon dan politik populis pemerintah.

Ada baiknya negeri ini menyimak fenomena Arne Duncan. Dia adalah sosok praktisi pendidikan tulen yang baru saja ditunjuk oleh Presiden Barack Obama untuk menjadi Menteri Pendidikan AS. Penunjukan itu sekaligus merupakan jawaban terhadap kekawatiran rakyat Amerika terhadap persoalan pendidikan terkini. Hal itu juga merupakan penghargaan bagi para pendidik atas dedikasi dan kerja detailnya. Fenomena Duncan juga menunjukan adanya reformasi pendidikan secara esensial dan berkesinambungan dalam beberapa periode pemerintahan. Sekedar catatan, bahwa dua dekade yang lalu bangsa Amerika sangat tersentak oleh laporan The President’s Commission on Excellence in Education, yang berjudul “A Nation At Risk:The Imperative for Education Reform”. Laporan itu memicu gelombang reformasi pendidikan di AS yang begitu eskalatif. Salah satu fokus reformasi adalah pentingnya pengembangan kompetensi guru sebagai profesi yang bertanggungjawab merancang ulang sistem sekolah serta mempersiapkan anak didik agar dalam kompetisi dimasa depan bisa unggul.
Untuk mempercepat agenda aksi diatas dibentuk The Carnegie Task Force on Teaching as a Profession. Task force tersebut mengusulkan segera dikembangkan standardisasi dan sertifikasi profesi guru serta dibentuknya National Board for Professional Teaching Standards (NBPTS). Eksistensi NBPTS bukanlah organisasi pemerintah, bersifat non-profit, independen, dan dikelola oleh dewan direktur yang berasal dari praktisi pendidikan. Mayoritas yang duduk dalam dewan direktur adalah guru kelas. Misi NBPTS antara lain memelihara standarisasi kompetensi guru, membantu guru yang berusaha memenuhi standar profesi, dan mengadvokasi reformasi pendidikan. Setelah sepuluh tahun sejak NBPTS didirikan, pengembangan profesi guru disana hasilnya sangat pesat. Bahkan profesi guru sekarang terdongkrak ke papan atas sebagai profesi bergengsi yang diminati oleh warga Amerika. Dalam konteks diatas Arne Duncan merupakan buah dari reformasi diatas sekaligus menjadi ikon. Duncan yang merupakan pakar sosiologi itu diharapkan bisa mengakselerasi lembaga pendidikan sesuai dengan era gelombang keempat atau era konseptual yang mengedepankan eksplorasi otak kanan sebagai kekuatan ekonomi bangsa. Dalam era tersebut lembaga pendidikan sebaiknya menjadi semacam rumah budaya dan nilai-nilai kearifan (house of culture and wisdom). Lembaga pendidikan harus mampu mengembangkan sikap yang memandang sains dan teknologi sebagai bahan yang tidak sekedar untuk dipelajari tetapi untuk di inovasi dan gencar diproduksi sehingga mendatangkan kemajuan dan nilai tambah.
Disisi yang lain bangsa Indonesia dalam menjalankan program pengembangan profesi guru masih terjerat berbagai persoalan klasik. Apalagi dana yang dibutuhkan untuk menuntaskan pengembangan profesi guru sangat besar. Tunjangan fungsional untuk guru dalam APBN 2007 saja mencapai Rp 17 triliun. Jika program sertifikasi guru dijalankan dengan volume seperti sekarang ini, diproyeksikan pada 2011 memerlukan alokasi anggaran sekitar Rp 85 triliun. Jumlah diatas sangat sulit diwujudkan bila kondisi ekonomi dan politik di Indonesia masih suram. Masalah pelik lainnya adalah bentuk pembinaan pasca sertifikasi yang belum terbentuk dengan baik. Fakta menunjukkan bahwa para guru yang telah mendapatkan sertifikasi dan tunjangan profesi, ironisnya justru banyak yang stagnan. Mereka tidak berpacu untuk meningkatkan kompetensinya dengan berbagai karya ilmiah. Padahal, pengembangan profesi guru harus berlangsung secara berkelanjutan. Bahkan portofolio kompetensi itu bisa cepat usang dalam situasi globalisasi yang dipenuhi persaingan. Kondisi terkait yang sangat menyedihkan adalah semakin banyaknya guru di negeri ini yang jauh dari buku-buku aktual, hilangnya kebiasaan diskusi, budaya menulis, apalagi melakukan riset atau penelitian ilmiah.
Data yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Depdiknas menunjukkan bahwa sekitar 2,7 juta guru di negeri ini tidak layak untuk mengajar. Karena kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi. Padahal, perkembangan sistem pendidikan dunia mengarah kepada pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) di kelas. CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi aktual. Serta mendorong siswa membuat keseimbangan antara pengetahuan dan ketrampilan. Sehingga pembelajaran menjadi lebih bernilai tambah. Dalam kelas yang berkarakter CTL, tugas guru lebih banyak berperan sebagai pendorong daya inovasi dan kreatifitas siswa.
Resistensi rakyat dan mahasiswa terhadap UU BHP akhir-akhir ini sangatlah beralasan. Fakta menunjukkan bahwa biaya kuliah diperguruan tinggi semakin tidak terjangkau. Perguruan tinggi semakin mirip dengan hotel berbintang dan kehilangan fungsi sosialnya. Padahal, beberapa perguruan tinggi terbaik dunia mulai mencari sistem yang lebih murah dan praktis, seperti menawarkan seluruh mata kuliahnya secara gratis lewat internet. Proses perkuliahan dan materi pelajaran dapat diunduh secara mudah. Bahkan, Massachusetts Institute of Technology (MIT) sedang gencar menyediakan ribuan materi mata kuliah secara gratis. Mata kuliah itu bisa diunduh secara rinci dan lengkap di internet. Langkah diatas juga terjadi di Yale University. Faktor yang menarik adalah penerapan teknologi Podcast dan Youtube yang bisa menghadirkan suasana ruang kuliah di tempat tinggal masing-masing. Terobosan yang progresif juga dilakukan oleh Rice University dengan membuat sebuah sistem yang disebut Connexions. Dengan sistem ini, para pengajar atau dosen di seluruh dunia, boleh mengunggah (upload) materi kuliah mereka serta menyebarkannya lewat internet. Sistem pendidikan tinggi semakin murah, praktis dan merakyat alias kolaboratif berkat driver wikinomics seperti web 2.0 dan net generation. Ironisnya, UU BHP cenderung menjadikan perguruan tinggi di Tanah Air semakin elitis, kapitalistis dan sadistis. Yang tersisa hanyalah secercah harapan di sanubari hakim Mahkamah Konstitusi agar pedang keadilannya tergerak untuk membatalkan beberapa pasal kontroversial dalam UU BHP.

*) Peserta Program S-3 Sekolah Pascasarjana UPI Bandung

Senin, 24 November 2008

Sistem pendidikan yang terlalu dipaksakan berbasis telematika justru berpotensi menghasilkan generasi Dumbest alias sontoloyo.



Arah Telematika Pendidikan dan Generasi Dumbest

Oleh HARJOKO SANGGANAGARA
( Peserta Program S-3 Sekolah Pascasarjana UPI Bandung )


Dunia pendidikan di Jawa Barat mulai mengarah kepada pemanfaatan telematika atau teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk pembelajaran secara elektronik. Infrastruktur telematika untuk menunjang proses pendidikan sebenarnya bukan hal baru. Sayangnya, hingga saat ini pembelajaran elektronik belum bisa optimal. Malah dikawatirkan akan menimbulkan generasi Dumbest yang bisa memperpuruk daya saing bangsa.

Langkah pemda Jabar yang ingin membenahi sekolah terpencil dengan pembelajaran elektronik hendaknya jangan sebatas seremonial belaka. Kondisinya semakin buruk jika langkah itu ternyata digunakan untuk ajang politik praktis dan kepentingan bisnis semata. Harus ada arah dan langkah yang jujur, konsisten dan hati-hati. Infrastruktur telematika pendidikan ibaratnya seperti jalan tol dalam proses pendidikan. Jalan tol itu kurang ada artinya jika tidak banyak muatan yang lewat. Mestinya para guru dan praktisi pendidikan di Jabar didorong sekuat tenaga agar proaktif memanfaatkan telematika pendidikan yang sudah eksis. Hingga saat ini partisipasi guru dan praktisi pendidikan di Jabar terhadap infrastruktur Jardiknas ( Indonesia Education ICT Network ) masih rendah. Padahal infrastruktur itu telah dirancang sebagai media yang ideal bagi sekolah, guru dan siswa untuk meningkatkan kompetensinya. Apalagi, Jardiknas juga diwarnai dengan komunitas untuk kolaborasi. Juga telah mengakomodasikan blog guru, blog siswa dan kaedah wikipedia.
Mestinya Jardiknas bisa menjadi platform yang kokoh untuk membenahi sekolah terpencil berbasis telematika. Dinas Pendidikan di Jabar tidak perlu lagi merekayasa sistem pembelajaran elektronik dari nol. Karena hal itu hanya akan membuang-buang waktu dan pemborosan anggaran. Arah telematika pendidikan di Jabar sebaiknya difokuskan kepada Jardiknas. Disdik Provinsi Jabar dan Kabupaten sebaiknya tidak perlu lagi repot-repot terlibat pembuatan situs online untuk pembelajaran elektronik. Yang terpenting adalah bagaimana mengarahkan dan menggencarkan partisipasi guru dan siswa untuk memanfaatkan secara aktif dan kolaboratif berbagai fasilitas yang telah tersedia di Jardiknas. Partisipasi guru dan siswa, utamamya untuk mengunggah ( up load ) karya dan portofolionya dalam Jardiknas seharusnya menjadi target utama telematika pendidikan di Jabar. Selain itu materi ajar lewat modul online dalam portal Edukasi Net ( E-Dukasi.net ) sudah sangat memadai untuk bahan mengajar di kelas sehari-harinya. Pada saat ini juga sudah ada situs-situs pembelajaran elektronik kolaboratif yang sangat bagus dan telah menjadi partner Jardiknas. Seperti OKE ( Open Knowledge & Education ), JENI ( Java for Edu Network in Indonesia ), Ilmu Komputer ( komunitas e-Learning gratis ilmu komputer dan teknologi informasi Indonesia ), Pesona Edu, dan Sekolah Maya atau Sekolahmaya.Net yang merupakan situs percontohan untuk sistim pembelajaran elektronik. Praktisi pendidikan di Jabar patut mengapresiasi dan mengunduh nilai tambah yang diberikan oleh OKE yang merupakan media untuk saling berbagi ilmu pengetahuan. Situs tersebut juga menampung materi ajar apapun baik itu modul pelatihan, materi pembelajaran, contoh-contoh soal, aplikasi pembelajaran, dan presentasi. Sedangkan JENI merupakan modul on-line yang siap dikembangkan, dengan pemrograman berbasis objek. Selain itu JENI juga merupakan bank soal dan pembahasan masalah pembelajaran perangkat lunak yang berbasis Java.
Penting untuk digarisbawahi, bahwa modul online sebagai materi ajar tidak sekedar buku elektronik atau e-Book. Modul online itu hendaknya bisa memesona dan memacu rasa ingin tahu para siswa. Jika tidak memesona maka modul elektronik itu akan “dilibas” oleh eksistensi game komputer yang telah mendominasi pikiran anak. Untuk itulah modul online juga harus dilengkapi dengan alat peraga elektronik, animasi, dan bentuk-bentuk multimedia lainnya dengan tampilan menarik. Selain itu modul online juga harus bisa memberikan arahan bagi siswa untuk mendayagunakan mesin pencari ( search engine ) internet sehingga bisa lebih berdaya guna dalam proses pendidikan. Apalagi, dalam era konvergensi telematika sekarang ini otoritas pendidikan di negara maju seperti Amerika Serikat sudah mengkawatirkan timbulnya generasi Dumbest. Telematika Pendidikan yang salah arah, serta kondisi menjamurnya warnet, play station dan arena hot spot hingga ke pelosok, semakin menjadi stimulus timbulnya generasi Dumbest. Fenomena generasi Dumbest yang keranjingan games dan internet menimbulkan prilaku serba jalan pintas, kurang menghargai waktu dan minus nilai tambah. Hal itu akan menjadi persoalan bangsa yang sangat serius.
Ikwal tentang generasi Dumbest tergambar dalam karya Mark Bauerlein lewat bukunya yang berjudul “The Dumbest Generation”, yang diterbitkan oleh Barnes & Nobles. Buku tersebut mengulas tentang pembodohan anak-anak Amerika akibat akses internet dan permainan lewat komputer. Buku itu menggugat janji-janji teknologi informasi dengan berbagai idiom seperti “knowledge sharing”,“information superhighway” dan lain-lain, yang ternyata sulit terbukti alias palsu. Hal itu akhirnya menciptakan generasi muda Amerika yang bodoh dan pemalas. Secara lugas buku itu juga mengkaji generasi muda Amerika menjadi generasi yang sibuk mengirim e-mail tanpa konteks intelektualitas dan melakukan chatting basa-basi sepanjang waktu. Tesis Mark Bauerlein diatas sangat mencemaskan, apalagi tesis itu merupakan hasil riset yang sulit disanggah. Timbulnya generasi Dumbest membuat otoritas pendidikan disana kebakaran jenggot lalu mencari berbagai solusi.
Tidak mustahil generasi Dumbest akan tumbuh di negeri ini. Disisi yang lain ada kecenderungan penerapan telematika pendidikan yang salah arah. Telematikanisasi sekolah jangan hanya untuk gengsi-gengsian yang pada akhirnya hanya menjadi sampah teknologi dan hanya memberikan keuntungan bisnis bagi segelintir orang. Pada tahap sekarang ini peran telematika untuk sekolah terpencil sebaiknya hanya sebatas support saja. Telematika jangan dipaksakan menjadi enabler dan transformer bagi dunia pendidikan karena bisa menimbulkan pemborosan yang luar biasa.
Ada baiknya sekolah untuk daerah terpencil di Jabar dibenahi dengan prinsip Sekolah Alam. Karena prinsip itu bisa impresif terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Sejatinya, sekolah di daerah terpencil dengan kondisi geografinya masing-masing justru sangat ideal untuk mengembangkan kecerdasan dan budi pekerti siswa. Bahkan, bangunan atau infrastruktur sekolah tidak perlu dipaksakan mirip di kota. Sekolah Alam sebaiknya memiliki bangunan sekolah tradisional yang lebih ergonomik, yang dikelilingi oleh rimbunnya aneka tumbuh-tumbuhan. Ruang kelas di Sekolah Alam tidak perlu terkurung tembok, cukup dengan dinding semi terbuka yang bercorak arsitektur tradisional. Sarana belajar seperti meja, kursi, papan tulis, alat penerangan dan lain-lain dibuat se-ergonomik mungkin sehinga tubuh siswa tidak merasa terpaku selama belajar. Dalam situasi dunia sekarang ini, Sekolah Alam membawa optimisme baru karena berpotensi mencetak siswa seperti Lintang sang tokoh dalam cerita Laskar Pelangi. Dilain pihak sistem pendidikan yang terlalu dipaksakan berbasis telematika justru berpotensi menghasilkan generasi Dumbest alias sontoloyo. (*)

*) Budayawan, Anggota DPRD Provinsi JABAR dari PDI Perjuangan
**) Artikel ini telah dimuat di harian KOMPAS Lembar Jawa Barat tgl 18 Desember 2008

Memperjuangkan kesejahteraan kaum penglaju yang terpaksa "tua dan menderita" di jalanan



Saatnya “Memanjakan” Penglaju Bandung Raya

Oleh HARJOKO SANGGANAGARA

Bandung bisa dikatakan merupakan kota metropolitan yang semu dan menyimpan segudang persoalan sosial yang bisa meledak setiap saat. Tak bisa dimungkiri, kota Bandung berkembang tanpa karakter yang jelas. Tekanan jumlah penduduk tidak disertai dengan pembangunan infrastruktur perkotaan yang memudahkan mobilitas pekerjaan, perumahan dan perjalanan bagi para penglaju. Bandung berkembang menjadi kota besar yang egois, karena kurang memperhatikan daya dukung kota-kota di sekitarnya seperti Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Cimahi.

Kota Bandung yang ingin meraih predikat sebagai kota modern bisa terganjal tanpa daya dukung yang ideal dari kota-kota di sekitarnya. Apalagi, fenomena jentrifikasi (gentrification) sudah mulai tampak. Jentrifikasi merupakan fenomena dalam sebuah kawasan atau komunitas kota di mana warga miskin dan mereka yang lemah akses akan terdisplasi atau terpindahkan ke luar kota secara tidak manusiawi. Pakar perencanaan kota Neil Smith menyatakan bahwa jentrifikasi sebagai dua mata sisi pedang yang tajam. Di satu sisi jentrifikasi bersifat sebagai frontier untuk optimalisasi ruang kota. Dan di sisi lain jentrifikasi juga memicu ketimpangan pembangunan fisik, budaya, maupun sosial dalam ruang kota yang bisa memicu gejolak sosial yang sangat serius. Sebelum berubah menjadi “monster” yang kejam, proses jentrifikasi harus segera ditanggulangi dengan langkah konkrit. Antara lain dengan memperbaiki dan membangun infrastruktur bagi para penglaju. Sudah saatnya kita “memanjakan” penglaju di Bandung Raya dengan berbagai jasa dan pelayanan. Kawasan Bandung Raya yang dibelah oleh jalur kereta api yang membentang dari Cicalengka hingga Padalarang mestinya menjadi faktor penting untuk “memanjakan” para penglaju sehingga sehari-harinya mereka bisa beraktifitas secara nyaman dan efektif.
Sangat menyedihkan jika selama sepuluh tahun terakhir ini nasib para penglaju di Bandung Raya masih tetap merana karena belum ada kemajuan yang berarti dalam pembangunan infrastruktur. Fasilitas angkutan KA yang mestinya bisa menjadi solusi jitu ternyata masih dikelola secara tambal-sulam. Pemerintah Provinsi masih menutup mata dan belum berkontribusi secara konkrit terkait sistem transportasi KA komuter di Bandung Raya. Kondisinya semakin menyedihkan ketika kita menengok komplek-komplek pemukiman para penglaju di Kabupaten Bandung, Cimahi dan Bandung Barat. Kawasan yang dahulu menjadi “satelit” kota Bandung perkembangannya menjadi stagnan dan tengah mengalami kehancuran prasarana disana sini tanpa ada pihak yang mau bertanggung jawab. Begitu pula bagi para penglaju yang jauh dari jalur KA, mereka terpaksa naik angkot sambung-menyambung yang berakibat menguras isi dompet. Mestinya ada kebijakan pemerintah daerah yang berani menata kembali jalur atau trayek angkutan umum di Bandung Raya sehinga sesuai dengan kondisi masyarakat terkini. Kondisi jalur atau trayek angkutan yang semakin acak-acakan dan lepas kendali semakin membuat para penglaju menderita. Tanpa ada kebijakan yang “memanjakan” para penglaju di Bandung Raya, maka perkembangan Kota Bandung akan terus tersandera dengan berbagai masalah sosial.
Strategi pengembangan wilayah Bandung Raya khusunya kota Bandung mestinya menuju kearah metropolitan dalam arti yang sejati. Arah tersebut bersandar kepada istilah metropolitan yang mengambil kata dari sistem perkereta-apian komuter atau light train system. Sistem KA komuter yang baik akan memudahkan kota metropolitan menjadi pusat aktivitas yang mampu membagi fungsi keruangannya secara ideal. Sehingga terciptalah integrasi yang kokoh antar kawasan permukiman dan tempat kerja. Menurut pakar perkembangan kota Angotti, karakter kota metropolitan terlihat dalam tiga aspek yang ideal, yakni terciptanya mobilitas pekerjaan (employment mobility), mobilitas perumahan (residential mobility) dan mobilitas perjalanan (trip mobility). Mobilitas pekerjaan dicirikan dari mudahnya orang berpindah tempat kerja tanpa harus berpindah tempat tinggal karena lebih banyak jenis dan variasi pekerjaan tersedia di kota metropolitan. Mobilitas pekerjaan ini berkaitan dengan tersedianya modal dan mobilitas modal yang besar. Mobilitas tempat tinggal biasanya mengikuti perubahan tempat kerja. Perpindahan tempat tinggal ini tidak selalu karena keinginan sendiri, tetapi sering kali juga terjadi karena digusur oleh dinamika pembangunan. Mobilitas perjalanan lebih mudah dilakukan di metropolitan karena ketersediaan sarana transportasi yang berbasis KA komuter. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karakter metropolitan dicirikan dengan adanya mobilitas dari modal dan tenaga kerja yang sangat tinggi. Apakah karakter tersebut sudah dimiliki oleh kota Bandung ?
Perencana dan pelaksana pembangunan kota mestinya memperhatikan secara seksama pembangunan kawasan asal para penglaju. Salah satu contoh kawasan asal penglaju di Bandung Raya adalah Kecamatan Rancaekek. Kita semua menjadi prihatin melihat kondisi Perumnas Bumi Rancaekek Kencana yang dahulu direncanakan menjadi semacam kota satelit. Namun, setelah 15 tahun berlalu masih tetap merana dan belum menjadi kawasan pemukiman yang nyaman. Bahkan, infrastruktur seperti jalan, saluran dan fasilitas umum lainnya banyak yang dibiarkan rusak karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Setelah lama tinggal di Perumnas Rancaekek, mestinya para penglaju merasa lebih mudah beraktifitas. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Perbaikan pelayanan transportasi KA masih tetap terpuruk. Mestinya waktu tempuh Rancaekek ke kota Bandung dengan KA komuter cukup menyita waktu 20 menit saja. Nyatanya, para penglaju dari Rancaekek waktunya masih tersita lebih banyak lagi jika ingin menuju kota Bandung. Infrastruktur KA double track atau jalur ganda dari Stasiun Hall Bandung sampai Stasiun Cicalengka yang telah direncanakan sejak puluhan tahun yang lalu, hingga kini belum mampu diwujudkan. Begitu pula dengan kondisi fisik stasiun dan gerbong KA komuter seperti KRD Ekonomi dan Patas selama sepuluh tahun terakhir belum ada perubahan signifikan. Gerbong-gerbong yang sudah tua, kotor dan tidak aman itu masih menjadi pemandangan hingga kini. Mestinya Pemprov Jabar bersama dengan PT KAI segera membenahi stasiun KA yang menjadi kantong-kantong penglaju di sepanjang jalur antara Cicalengka dan Padalarang. Penataan stasiun dan penyediaan gerbong KA yang cukup sudah sangat medesak. Emplasemen seluruh stasiun KA mestinya ditata secara baik dan asri. Serta disterilkan dari aktifitas PKL sehingga tidak menjadi kumuh dan kotor. Untuk “memanjakan” penglaju yang terdiri dari para pekerja, PNS, profesional, pelajar dan mahasiswa, alangkah baiknya kalau di stasiun KA disediakan koneksi internet secara gratis dengan sistem Wajanbolic. Sistem Wajanbolic yang harganya murah itu mestinya tersedia di setiap stasiun KA. Agar para pengunjung stasiun atau orang-orang yang berada di radius satu kilometer dari stasiun KA dapat menadah WiFi ( wireless fidelity ) alias hot spot sehingga bisa mengakses jaringan intenet secara gratis sambil menunggu jadwal KA. Masih ada seribu satu cara untuk “memanjakan” para penglaju di Bandung Raya. Masalahnya, tinggal sampai sejauh mana empati dan kecerdasan dari pejabat daerah dalam memperbaiki nasib kaum penglaju yang setiap harinya harus berjuang.

*) Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat
**) Artikel diatas telah dimuat di koran KOMPAS, lembar Jabar 12 Nopember 2008

Mensejahterakan dunia dengan TERTAWA TULUS



Budaya Tertawa Tulus
Oleh : HARJOKO SANGGANAGARA *)


Tertawa merupakan obat yang paling ampuh dalam menghadapi krisis ekonomi global. Krisis menyebabkan rasionalitas menjadi tumpul dan kecemasan semakin menyembul. Tertawa yang berkualitas atau tertawa secara tulus menjadi urusan penting, baik secara pribadi, korporasi maupun dalam kepemimpinan bangsa. Begitu pentingnya makna tertawa tulus, sampai-sampai dalam kesempatan jamuan makan malam antara Presiden terpilih USA ke-44 Barack Obama dengan rivalnya John McCain menjadi tontonan kelas dunia yang sangat menarik. Dalam jamuan makan malam itu keduanya melontarkan humor-humor bermutu yang bisa meledakkan tawa. Bersamaan dengan itu para pakar psikologi menganalisa apakah senyuman kubu Obama dan McCain benar-benar tulus. Berbahagialah bangsa Amerika, karena kedua pihak yang sengit dalam persaingan Pilpres itu secara ilmiah terbukti benar-benar tertawa secara tulus.
Budaya tertawa tulus ternyata semakin penting bagi sektor korporasi, birokrasi dan edukasi pada saat krisis ekonomi seperti ini. Bahkan, menurut hasil riset kompetensi SDM oleh konsultan internasional yang bernama Hay Group menyatakan bahwa tipe kepemimpinan atau manajemen yang paling efektif pada era sekarang ini adalah yang sarat humoris dan bukan eksentrik. Tak pelak lagi, budaya tertawa tulus telah menjadi obat penawar krisis ekonomi global. Sebagai catatan, pada saat depresi ekonomi dunia tahun 30-an Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt begitu getolnya menumbuhkan budaya tertawa di tengah bangsanya. Roosevelt juga memberikan peran yang luas kepada para seniman dan budayawan untuk menghibur sekaligus menumbuhkan optimisme rakyat. Antara lain aktor besar Charlie Chaplin yang sangat berperan menghalau hantu malaise dan membentang cakrawala baru. Hal serupa juga pernah dilakukan di Indonesia ketika menghadapi krisis pangan pada tahun 70-an. Lagu ”Ayo Ngguyu” ( Ayo Tertawa ) yang dinyanyikan oleh biduan legendaris Waljinah telah menjadi spirit bagi masyarakat, utamanya kaum tani untuk bekerja keras mewujudkan swasembada pangan atau beras. Lagu ”Ayo Ngguyu” yang tak henti-hentinya berkumandang di pedesaan dan perkotaan itu telah mendorong berkembangnya budaya tertawa tulus dan pada gilirannya telah mewujudkan rasa tentram dan percaya diri. Kondisinya sangat berbeda dengan saat ini, dimana para petani terus didera gundah gulana akibat sederet persoalan seperti merosotnya daya beli, kesulitan benih dan pupuk dan bencana alam. Orang di desa telah kehilangan budaya tertawa tulus. Ironisnya, pemerintah justru mengganti budaya itu dengan iklan layanan di TV berupa eufimisme program pemberdayan masyarakat yang terlihat klise dan bombastis.
Selain menghadapi krisis dengan instrumen keuangan dan inovasi produk, perusahaan multinasional sekarang ini juga telah menggencarkan budaya tertawa tulus. Terapi tertawa, senam tertawa, dan eksploitasi humor telah menjadi trend di perusahaan multinasional. Dalam konsteks tersebut terlihat adanya transformasi budaya kerja dari yang serba kaku dan terburu waktu, menjadi ruang atau situasi kerja yang mampu berbagi emosi. Salah satu fenomena diatas terlihat di industri automotif Ford’s River Rouge. Beberapa waktu yang lalu, tindakan tertawa ( termasuk bersenandung, bersiul, dan tersenyum ) yang dilakukan oleh karyawan merupakan sebuah kesalahan atau indisipliner yang harus diberi sangsi. Cukup banyak karyawan Ford yang dipecat gara-gara kepergok sedang tertawa bersama kawan-kawannya. Disiplin manajerial yang kaku itu adalah refleksi dari gaya manajemen Henry Ford. Namun, pada era sekarang ini, dimana industri automotif sedang terancam kebangkrutan menimbulkan depresi yang menghantui pabrik Ford River Rouge. Ternyata, terapi tertawa untuk memelihara produktivitas dan stamina beban kerja menjadi sangat penting. Budaya tertawa tulus bagi kemajuan korporasi hasilnya sangat positif. Salah satu contohnya adalah perusahaan penerbangan Southwest Airlines yang sudah cukup lama mendorong budaya tertawa dalam mengelola SDM. Para pilot, pramugari hingga teknisi yang sehari-harinya didera beban kerja dengan impact yang sangat tinggi mampu bersinergi secara baik dengan terapi tertawa sebelum menjalankan tugas. Hasilnya, perusahaan itu sekarang ini masih bisa survive dan berkinerja sangat baik. Dilain pihak, para pesaingnya banyak yang di tepi jurang kebangkrutan. Terapi tertawa juga sangat berguna bagi profesi kedokteran. Para dokter banyak yang belajar terapi tertawa dan terus menambah perbendaharaan humornya untuk menghadapi pasiennya. Apalagi fakta menunjukkan bahwa banyak pasien yang sembuh lebih cepat ketika mereka sering tertawa dengan tulus. Ikwal tertawa pada saat ini mendapat porsi yang sangat berarti dalam penyelidikan pikiran atau otak manusia. Bahkan perguruan tinggi terkemuka di dunia seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT) sedang gencar melakukan riset mengenai budaya tertawa.
Untuk mendorong budaya tertawa para pemimpin mempunyai tanggungjawab tertawa tiga kali lebih banyak. Secara ilmiah tertawa tulus sangat berbeda efek dan maknanya dengan tertawa palsu. Tertawa tulus sangat berguna untuk memompa motivasi diri, terapi penyembuhan jasmani dan rohani, serta obat pengusir stress atau depresi yang paling ampuh. Tertawa tulus bisa dideteksi secara ilmiah, begitu pula dengan tertawa palsu. Tertawa tulus atau senyuman sejati oleh pakar psikologi Ekman disebut dengan istilah tertawa “Duchenne”. Istilah tersebut diambil dari nama seorang neurologis asal Perancis Duchenne de Boulogne. Yang melakukan riset pertama dalam bidang tersebut pada 1980-an. Teorinya menyatakan bahwa senyuman yang tulus melibatkan secara simultan dua otot wajah : yakni otot zygomatic major, yang memanjang dari tulang pipi dan mengangkat sudut-sudut mulut. Dan yang kedua bagian luar dari otot obicuralis oculi, yang mengelilingi mata, dan terlibat dalam “menarik ke bawah alis mata dan kulit di bawah alis mata, dan menarik ke atas kulit di bawah mata, dan mengangkat pipi-pipinya.” Tertawa atau senyuman yang artificial alias palsu hanya melibatkan otot zygomatic major. Tesis menyatakan bahwa kita dapat mengontrol otot itu, namun kita tidak dapat mengontrol bagian yang relevan dari otot obicuralis oculi. Karena otot itu berkontraksi secara spontan alias tidak bisa dimanipulasi, dan hanya ketika kita benar-benar mengalami “kesenangan” otot itu akan bergerak. Duchenne menyimpulkan bahwa emosi dari kesenangan yang jelas diekspresikan pada wajah oleh kontraksi gabungan antara otot zygomatic major dan obicuralis oculi. Yang pertama mematuhi keinginan kita, namun yang kedua hanya dimainkan oleh emosi-emosi yang manis oleh misteri jiwa.
Dalam krisis ekonomi global sekarang ini tertawa merupakan virus yang sangat berguna. Oleh sebab itu perlu tercipta epidemi tertawa yang bisa menjaga kesehatan, bahkan tidak mustahil bisa menciptakan perdamaian dunia. Ada yang berpendapat bahwa urang Sunda sekarang ini semakin sulit tertawa. Padahal, urang Sunda umumnya tergolong tukang heureuy. Ada apa dengan si tukang heureuy ? Ayo, tertawa tulus ! Dunia belum kiamat.

*) PENULIS, Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jabar.