Senin, 24 November 2008

Generator sosial urang Sunda tinggal satu, PERSIB !!!




Menyongsong PERSIB Incorporated
Oleh : Harjoko Sangganagara


PERSIB akan melangkah menjadi badan hukum yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Dengan demikian Persib akan menjadi korporasi atau perusahaan yang sahamnya bisa dimiliki oleh publik. Hal diatas membawa risiko bahwa Persib Incorporated harus dikelola lebih profesional dan berkinerja tinggi. Pasalnya, sebagai korporasi dirinya harus mempertanggung jawabkan kinerja lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Publik akan bersemangat membeli saham Persib Incorporated jika ada gambaran atau prospektus yang baik dan meyakinkan. Selain budaya kerja korporasi, budaya bobotoh Persib juga menjadi faktor yang sangat penting. Budaya bobotoh Persib seperti kadar sportifitas dan kreativitas mesti diperbaiki agar nilai saham Persib Incorporated tidak terpuruk.

Jaman sekarang ini sepak bola adalah industri yang luar biasa nilai tambahnya. Tak mengherankan jika banyak investor berani membeli klub sepak bola dengan harga yang fantastis. Yang menjadi pertanyaan penting adalah, apakah dengan membeli klub sepak bola otomatis juga “membeli” suporternya ? ..............................................................

( Telah dimuat koran TRIBUN JABAR, 16 Nopember 2008 )

Jumat, 24 Oktober 2008

Infrastruktur Penentu Kebangkitan Bangsa



Merisaukan Kualitas Proyek Infrastruktur

Oleh HARJOKO SANGGANAGARA


Pembangunan proyek infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah banyak yang mengalami kemacetan akibat fluktuasi harga bahan baku konstruksi. Tak henti-hentinya para kontraktor berteriak agar pemerintah memberikan insentif kepada mereka. Lalu, pemerintah menurunkan dua skim eskalasi proyek dengan cara optimalisasi anggaran dan penyesuaian volume projek. Optimalisasi anggaran akan diberikan dalam setiap pos anggaran masing-masing proyek. Optimalisasi anggaran itu pada prinsipnya memakai SAL ( sisa anggaran lebih ) yang tidak digunakan pada tahun anggaran berjalan. Bila sisa anggaran dalam satu projek tidak mencukupi kebutuhan eskalasi, pemerintahpun masih bermurah hati karena membolehkan pengurangan volume proyek. Kondisi itu tentu saja bisa berdampak negatif karena akan mengorbankan kualitas proyek. Yang pada gilirannya sangat merugikan kepentingan publik dan memberatkan keuangan negara. Karena dikemudian hari dirongrong oleh biaya perawatan yang semakin tinggi ( sering ) akibat kondisi infrastruktur yang mudah rusak.

Sangat menyedihkan jika kita sering menutup mata sehubungan dengan banyaknya kasus proyek infrastruktur yang berkualitas rendah. Ironisnya, kerisauan terhadap kualitas proyek infrastruktur di negeri ini justru sering dilakukan oleh pihak asing. Salah satunya ditunjukkan oleh Presiden Bank Dunia, Paul Wolfowitz. Bahkan kepada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dirinya mengeluh karena banyak bantuan dari Bank Dunia yang dialokasikan untuk proyek infrastruktur yang terkena biaya tinggi alias terlalu mahal. Sudah begitu masih disertai dengan kebocoran besar dan penyimpangan prosedur, norma dan standar teknik sehingga menghasilkan infrastruktur atau bangunan konstruksi yang berkualitas rendah. Sebagai contoh proyek pembangunan ruas jalan yang dibiayai dari bantuan Bank Dunia yang dirancang untuk masa pakai sekitar 10 tahun, nyatanya baru berumur satu tahun sudah mengalami kerusakan berat. Karena itulah Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya sangat mendorong terbentuknya Independen Monitoring Unit untuk mengawasi proyek-proyek infrastruktur hingga kepelosok daerah. Dalam lembaga independen itu para anggotanya diberi pengetahuan tentang audit forensik (forensic auditing). Agar mereka bisa mengungkap penyimpangan dari segi kualitas dan spesifikasi teknik. Mestinya segenap bangsa ini harus malu, karena lembaga internasional sudah cukup lama menyatakan bahwa kegagalan atau kesulitan bangsa Indonesia membangun infrastruktur yang memadai disebabkan lemahnya profesionalitas para pelaksana dan pengawasan proyek. Serta maraknya praktek korupsi dan persaingan usaha yang tidak sehat. Salah satu cara untuk menepis kerisauan terhadap kualitas proyek infrastruktur adalah meningkatkan profesionalitas entitas kontraktor. Juga perlunya menumbuhkan budaya mutu dalam pembangunan infrastruktur di daerah. Pemerintah daerah hendaknya mengutamakan faktor kualitas pembangunan infrastruktur dari pada sekedar target seremonial politik. Acap kali pemeritah daerah ”mengebut” pengerjaan proyek infrastruktur hanya gara-gara ”kejar tayang” kepentingan politik praktis atau perayaan hari-hari besar. Akibatnya kualitas proyek dinomor duakan.
Tidak berlebihan jika ada yang berpendapat betapa enaknya jadi kontraktor di negeri ini. Selain bisa main-mata tentang aturan tender, kepentingan mereka juga selalu diakomodir oleh pemerintah. Sudah saatnya bangsa ini mendewasakan entitas kontraktor dengan cara meningkatkan profesionalitasnya. Lebih-lebih, selama ini rakyat acap kali dibuat jengkel karena ulah para kontraktor yang seenaknya mengganggu kepentingan publik saat mengerjakan proyek. Seperti misalnya kasus penggalian di pinggir jalan atau fasilitas publik yang tidak mengindahkan faktor keselamatan dan kenyamanan. Kalau sudah demikian tidak ada pihak yang kredibel untuk menindak ulah kontraktor diatas. Akhir-akhir ini kejengkelan rakyat juga timbul akibat arogansi sejumlah perusahaan konstruksi yang terlibat dalam pembangunan megaproyek PLTU 10 ribu Megawatt. Mereka menghentikan proyek secara sepihak lalu menuntut eskalasi proyek sebesar 30 persen. Padahal, harga proyek diatas sejatinya sudah terlalu tinggi. Mestinya, kasus diatas diproses secara hukum tanpa pandang bulu. Ada masalah serius dalam entitas kontraktor di negeri ini yang berkaitan dengan aspek Quantity Surveyor. Hal tersebut menyebabkan lemahnya estimasi waktu dan biaya proyek. Serta buruknya risk management dan durasi proyek. Entitas kontraktor di negeri ini juga masih lemah dalam menyusun work breakdown structure (WBS) yang merupakan detail daripada proyek. Oleh sebab itu perlunya memperdalam kompetensi seperti disyaratkan dalam buku “Guide to the Project Management Body of Knowledge”. Atau yang lebih populer dengan sebutan Abbreviation PMBOK Guide yang diterbitkan oleh The Project Management Institute.
Entitas kontraktor di negeri ini mestinya memiliki kemampuan yang handal dalam hal perhitungan biaya dalam rangka menjamin akurasi harga penawaran dan terciptanya kualitas proyek. Pada saat ini kompetensi menghitung biaya proyek dari entitas kontraktor di negeri ini masih banyak yang lemah. Apalagi masih sedikitnya tenaga di bidang Quantity Surveyor yang tugas utamanya adalah menyangkut perhitungan dan analisa biaya proyek. Sekedar catatan, bahwa profesi bidang Quantity Surveyor sendiri di negeri ini masih belum banyak dikenal. Tetapi bukan berarti fungsi bidang tersebut selama ini tidak dilakukan, tetapi dengan istilah lain yang lingkupnya lebih sempit yang biasa disebut estimator. Istilah Quantity Surveyor berasal dari Inggris, lalu meluas sebagai bidang profesi yang diakui secara internasional. Di negara maju Quantity Surveyor juga biasa disebut dengan istilah Construction Economists, Cost Consultans, atau Cost Engineers. Secara garis besar lingkup pekerjaannya meliputi estimate and monitoring construction cost dari tahap awal sampai tahap akhir. Melakukan tender dan menetapkan jenis kontrak. Menghitung potensi reduksi pajak konstruksi dan nilai klaim asuransi. Serta menjalankan mediasi dan Arbitrase jika terjadi sengketa proyek. Sesuai dengan lingkup diatas maka peran spesifik dari seorang Quantity Surveyor selama tahapan proyek dapat dijelaskan sebagai berikut; Dari tahap feasibility study menuju tahap Desain yakni melakukan value engineering terhadap desain yang ada. Kemudian menekan biaya proyek tanpa mengurangi tujuan dan fungsinya. Juga mempersiapkan Bill of Quantities dan menyusun biaya. Tahap procurement atau pengadaan berupa penyiapan dokumen pra qualifikasi atau tender dan menghitung penawaran tender yang paling kompetitif. Kemudian tahap construction hingga tahap pasca construction. Semua tahapan diatas musti terkelola sesuai dengan standar internasional.
Kemajuan di bidang manajemen proyek yang sangat pesat dewasa ini membuat aspek estimasi terjadi persenyawaan antara construction economists dengan aspek seni. Hal itu sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa estimasi proyek merupakan sebuah seni tersendiri. Namun demikian, kualitas estimasi, durasi dan analisa biaya masih tetap menjadi faktor keberhasilan dalam mengelola proyek. Kualitas estimasi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti personalia, teknologi, dan downtime. Dalam mengerjakan proyek yang berskala besar entitas kontraktor juga harus memahami apa yang disebut sebagai maturity model atau model kedewasaan dalam rangka menciptakan kualitas yang paripurna. Pada awalnya model tersebut penerapannya terbatas dalam bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Namun, belakangan ini model tersebut penggunaannya semakin meluas dalam proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur.

*) Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat
**) Artikel telah dimuat di harian KOMPAS, 22 Oktober 2008

Casuarina Equistifolia Linn termasuk dalam famili Casuarinaceae


Merupakan tanaman yang ideal untuk taman kota dan perumahan. Jika rambutnya sering di rebonding dan tubuhnya dibentuk lewat “tari balet” maka si gadis pantai itu harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Keperkasaannya juga mampu menahan ombak pantai, badai gurun dan prahara gunung, ..........

Gadis pantai yang senang berdesir dan melambai itu bernama Casuarina EL alias Cemara Udang.


Dia adalah lambang keteguhan dan kesejukan. Pantas dimuliakan karena mengandung segudang keindahan dan sederet filosofi kehidupan.

Minggu, 14 September 2008

The Method of Cadre Character Development of Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) in Building the spirit of Nationalism


THE ABSTRACT

Harjoko Sangganagara B. Sugiatmo. The Method of Cadre Character Development of Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) in Building the spirit of Nationalism in the Globalization Era (The Descriptive Analytic Study to the Cadre Course Participants Held by the Training and Education Board of The Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) of the Province of West Java Chapter).
The advent of the program on character building through cadre regeneration at the Indonesian Democratic Party of Struggle for West Java Chapter is regarded as a response toward a disparity between the demand for development and the party’s capability owing to the scarcity of the cadres who have intelligent traditions and statesmanship with ideology concerns; conscience and political understanding; the party awareness; as well as higher social and environmental awareness.
To overcome the problems, it is necessary to make the program of the party’s cadre character building which is materialized by instilling the Indonesia Five Fundamental Principles (Pancasila) ideology in the nation building. The regeneration is conduct at the Training and Education Board of the Indonesian Democaratic Party of Struggle of West Java Chapter in Bandung periodically.
This move was based on the decision of the First Congress of the Party (PDI Perjuangan) held ini Semarang to prepare the Party members to be the cadre through a special training and education. Cadres are those who are posted at the structural party, governance, both executive and legislative, as well as functional tasks.
Such a cadre position is a novel strategy in character development through nation building by recruiting the education participants across the regencies and cities in West Java. Next, they are educated and updated in the hope to improve the human resource which has the national horizons with curricular materials comprising : Pancasila ideology, Indonesian Political Economic Social and Cultural Systems (Trisakti), National History and History of Political Parties in Indonesia, Leadership and Management Organization, Political Communication and a set of Outbound activities.
The study was conducted through : (1) observing the learning process in conjunction with character development at Badiklat PDI Perjuangan of West Java ; (2) observing the training and educations participants; and (3) observing the national development in the use of interview and observation method.
The efforts of character development can be realized to generate the cadre participants. The training and education participants who returned to their districs and hometowns may bring with them some positive effects for the national life and party despite some weaknesses that need further study. Therefore, the character building of the cadres should be improved when necessary.

Jumat, 22 Agustus 2008

RPJPD Jawa Barat, "Meraih Kaki Bukit, Bukan Cita-Cita Setinggi Langit"


Gazela dan Singa Dalam Perda RPJPD

Oleh : HARJOKO SANGGANAGARA *)


Perda Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Jawa Barat tahun 2005-2025 telah disahkan dalam suasana kurang darah dan sepinya respon masyarakat. Kita semua bisa menilai apakah eksistensi Perda itu bersifat realistis, bombastis, atau merupakan dokumen “salah mimpi” karena terbatasnya kemampuan dalam merumuskan realitas dan meneropong masa depan.

Mestinya ada faktor Gazela dan Singa dalam menyusun Perda RPJPD Jabar. Karena fakta menunjukkan bahwa persaingan hidup semakin sengit dan dalam tempo yang sangat cepat. Kondisi persaingan di era globalisasi jilid tiga sekarang ini bisa dianalogikan seperti berlari bersama Gazela ( Kijang ) dan mencari makan berhadapan dengan Singa. Faktor Gazela dan Singa merupakan filosofi dari Dromokrasi yang berarti pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi terletak pada faktor kecepatan. Istilah Dromokrasi berasal dari akar kata dromo yang dalam bahasa Yunani berarti berpacu atau cepat dan kratos berarti pemerintahan. Pada era globalisasi, kecepatan menjadi ciri kemajuan sehingga membentuk progres tata pemerintahan dalam tempo tinggi.
Jika kita cermati Perda RPJPD isinya belum menekankan secara tegas akan pentingnya faktor kecepatan. Serta belum tampak milestones pembangunan secara sistematik. Hal itu disebabkan belum adanya dukungan Expert System sebagai alat yang canggih untuk menyusun rencana pembangunan, pembuatan keputusan dan pengendalian pembangunan. Sebagai catatan, Expert Systems biasanya dibuat atas kerangka kerja fakta dan jawaban terhadap situasi yang sudah dianalisasi secara valid dan terstandarisasi. Expert System itu dalam konteks rencana pembangunan wilayah atau infrastruktur biasanya berupa visualisasi rencana pengembangan. Visualisasi tersebut dalam dunia otomotif atau perancangan pesawat terbang biasa disebut dengan mock-up. Kemajuan perangkat aplikasi komputer seperti CATIA yang berkemampuan solid modeling sangat memungkinkan membuat digital mock-up yang sangat praktis. Dengan digital muck-up itu berbagai macam iterasi dan modifikasi desain bisa dilakukan perubahan dengan cepat. Contoh Expert System yang sangat bagus telah dimiliki oleh kota Beijing di Cina yang bernama Beijing Municipality Planning Exhibition. Dengan adanya Beijing Municipality siapapun bisa mengetahui secara detail seperti apa kondisi kota Beijing selama lima, sepuluh, hingga duapuluh lima tahun kedepan secara valid dan sangat meyakinkan. Dengan demikian pembangunan bisa terpacu dan relevan dengan tantangan jaman.
Sesuai dengan UU Nomor 25 tahun 2004, bahwa dalam Perda RPJPD juga tertuang rumusan visi untuk merancang masa depan pembangunan daerah. Visi pembangunan daerah Jabar yang telah dirumuskan adalah “Dengan Iman dan Taqwa Provinsi Jawa Barat Termaju di Indonesia”. Warga Jabar dipersilahkan merenung apakah visi diatas bisa menjadi kompas pembangunan daerah. Atau hanya sekedar kata-kata mutiara yang indah. Mestinya visi diatas bisa menyemangati sekaligus mampu menjadi pekik komando dalam berpacu dengan Gazela dan berkompetisi dengan Singa dalam membentuk masa depan. Bagaimanapun juga, RPJPD merupakan dokumen perencanaan yang mengandung unsur kebijakan publik. Dan selanjutnya sebuah kebijakan publik tidak hanya menjadi barang pajangan tetapi harus diimplementasikan. Arti lebih lanjut dari hal diatas adalah bahwa RPJPD harus mempunyai keterkaitan nyata (tangible) dengan dokumen RPJMD. Setidaknya harus ada indikator dan korelasi positip terhadap sasaran lima tahunan. Kekuatan RPJPD sebagai satu dokumen perencanaan akan terwujud jika ada kejelasan mengenai faktor-faktor yang akan dikembangkan sebagai pendukung pencapaian visi dalam kurun 20 tahun kedepan yang terdistribusi bebannya secara baik dalam 5 tahunan.
Untuk menggambarkan realitas dan membentuk masa depan menurut Prof. Thurow dari Massachusets Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat terdapat dua kata kunci. Dimana keduanya memberikan gambaran langsung dari tantangan yang akan membentuk masa depan. Kedua kata kunci tersebut adalah : pertama, semakin berkurangnya arti dan peran sumber daya alam dan buruh sebagai modal dasar pembangunan. Dan yang kedua semakin meningkatnya peran dari kreatifitas dan daya inovasi manusia (human ingenuity) sebagai unsur pokok dalam menentukan keunggulan dan keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Disisi yang lain isi RPJPD Jabar justru menempatkan sumberdaya alam dan melimpahnya buruh sebagai modal dasar pembangunan daerah. Posisi geografis Jabar yang berbatasan dengan Ibukota Negara menjadi penyangga serta lintasan utama arus regional penumpang dan barang antar pulau Sumatera-Jawa-Bali. Namun, faktor itu bisa kurang berarti jika pembangunan infrastruktur sangat lambat dan kurang memadai jumlahnya.
RPJPD juga memberikan perhatian terhadap pertumbuhan lapangan kerja dengan cara mendorong sektor pertanian multiaktivitas. Sayangnya, sektor pertanian multiaktivitas belum terdefinisi secara kokoh. Masih bersifat amorfik alias bentuknya masih berubah-ubah. Nampaknya janji Gubernur dan Wagub untuk menciptakan sejuta lapangan kerja per-tahun untuk warga Jabar sangat sulit diwujudkan. Akibatnya, Jabar masih terus menduduki urutan pertama dalam jumlah pengangguran. Mestinya RPJPD mampu mentransformasikan profesi atau jenis pekerjaan penduduk Jabar yang tidak memiliki prospek masa depan. Serta pentingnya Reinventing atau menemukan kembali masa depan industri budaya atau industri kreatif dengan langkah-langkah yang lebih progresif dan sistemik. Sebagai catatan, lapangan pekerjaan utama penduduk Jabar masih didominasi oleh sektor pertanian dan perdagangan, yaitu sebesar 27 persen untuk sektor pertanian dan 26 persen sektor perdagangan. Kemudian disusul sektor industri sebesar 18 persen, jasa 12 persen, sektor angkutan dan pergudangan 9 persen dan sisanya belum bisa didefinisikan secara layak karena jenis pekerjaan tersebut bersifat serabutan. Melihat postur pekerjaan utama penduduk Jabar yang dalam kondisi rapuh, ditambah semakin meningkatnya jumlah pengangguran intelektual lulusan perguruan tinggi. Diperlukan terobosan dalam penciptaan lapangan kerja baru terutama yang berbasis industri kreatif atau industri budaya. Pentingnya pembangunan infrastruktur untuk industri kreatif dan lebih banyak lagi dibangun Balai Latihan Kerja ( BLK ) yang mengajarkan beragam produk kreatif. Sehingga akan lahir pekerjaan jenis baru atau future of work di era globalisasi. Gambaran singkat dari kinerja ekonomi kreatif menurut World Bank pada 2006 adalah mencapai pertumbuhan 9 persen per-tahun. Dan 7,3 persen PDB dunia adalah kontribusi dari industri kreatif. Pekerja kreatif akan terus tumbuh rata-rata di atas 5 persen setiap tahun. Apakah RPJPD Jabar telah mengakomodasikan secara baik sektor industri kreatif ? Nyatanya, anggaran di sektor seni, budaya dan infrastuktur terkaitnya dalam APBD setiap tahunnya masih sangat kecil. Jangankan berpacu dengan Gazela, berlari mengejar Domba pun rasanya tidak sanggup.

*)    Artikel dimuat di harian KOMPAS, 15 September 2008
**) Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat

Senin, 11 Agustus 2008

Olah Raga Bangun Mental Bangsa, PERSIB Bangkitkan Energi Kolektif Warga Jabar



Membangun Budaya Sportifitas Bobotoh Persib

Oleh : HARJOKO SANGGANAGARA *)

Sang petualang globalisasi gelombang pertama yakni Marco Polo pada 1254 mengambil secara diam-diam permainan sepak bola dari daratan Asia khususnya negeri Cina lalu dibawa ke daratan Eropa. Sejak saat itu sepak bola menjadi cermin sosial dan barometer tingkah laku masyarakat. Sampai-sampai pemikir sosial Antonio Gramsci menyatakan bahwa sepakbola merupakan model masyarakat yang sangat membutuhkan penegakan hukum fair play dan sportifitas. Betapa sulitnya membangun budaya sportifitas bagi suporter sepak bola. Namun, sesulit apapun usaha itu harus tetap dilakukan tanpa ada kata putus asa. Termasuk usaha untuk membangun budaya sportifitas bagi generasi baru bobotoh Persib sekarang ini. Harus diakui secara jujur bahwa pesona Persib bagi generasi muda di tatar Pasundan sangat luar biasa dan mengalahkan pesona partai politik atau ormas manapun.

Alangkah sayangnya jika energi kolektif suporter Persib tidak bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan produktif. Pelarangan bermain dikandang sendiri bagi Persib dalam laga kompetisi Liga Super Indonesia 2008 akhir-akhir ini merupakan dilema besar yang mesti dipecahkan segera. Mestinya orangtua dan pemegang otoritas keamanan tidak serta merta menghukum bobotoh Persib dengan “palu godam” yang bisa meremukkan energi kolektif kaum belia. Bukankah, kita sebagai orang tua di tatar Pasundan ini sangat berdosa karena sudah puluhan tahun belum mampu membangun stadion atau SOR ( sarana olah raga ) yang representatif dan modern. Alangkah malangnya nasib anak-anak kita yang kesulitan fasilitas olah raga dan ruang untuk berkreasi.
Membangun budaya sportifitas bagi bobotoh Persib sebenarnya bukan pekerjaan mahal, tetapi butuh ketulusan, ketelatenan dan daya kreatifitas. Dari aspek psikososial suporter Persib tak ubahnya seperti Tifosi, sebutan dari suporter Italia. Mereka itu ada kesamaan yakni tidak sekedar menonton pertandingan, tetapi cenderung ikut menentukan jalannya permainan sebagai “aktor” di pinggir lapangan. Dengan demikian para suporter dalam status sebagai “aktor” sebaiknya didorong atau diberi fasilitas tertentu supaya lebih bertanggung jawab. Selain itu agar suguhan teaternya tak kalah sensasional dari pertandingan sepakbolanya. Juga harus dibangun daya kecerdasannya agar mampu menyedot atensi dan liputan media masa. Alangkah eloknya jika para pejabat dan tokoh-tokoh masyarakat sering larut ditengah aksi supporter itu. Menghadapi gejolak bobotoh Persib akhir-akhir ini dibutuhkan metode yang persuasif. Seperti halnya langkah perusahaan multinasional Honda yang ikut serta membangun budaya sportif dikalangan suporter sepak bola. Yang berusaha mengeleminir perilaku suporter yang destruktif dan mentransformasikan menjadi hiburan kolosal yang atraktif baik di dalam maupun di luar stadion. Transformasi itu bisa berlangsung secara baik jika perkumpulan suporter mampu membuat tribun penonton tak ubahnya seperti panggung teater yang mampu menyajikan paduan suara, koreografi hingga panggung humor kolosal. Dan jangan lupa bahwa faktor humor atau komedi yang disisipkan dalam siklus pertandingan sepak bola sangat ampuh untuk meredam emosi sekaligus pembangkit sikap sportifitas. Dalam hal itu kemurungan akibat kekalahan pertandingan bisa ditransformasikan menjadi gelak tawa yang menyehatkan jiwa raga. Tampaknya bobotoh Persib perlu terapi tertawa secara interaktif untuk mencegah efek petasan sumbu pendek alias beban psikologis yang sedang mengimpit. Perlu dicatat, bahwa pada era globalisasi sekarang ini humor atau kejenakaan merepresentasikan salah satu bentuk intelegensi manusia yang paling tinggi. Tak kurang dari Fabio Sala yang teorinya menyatakan bahwa humor yang digunakan secara mahir akan melancarkan berbagai aktivitas organisasi, termasuk aktivitas olah raga.
Terapi tertawa secara interaktif bagi supporter sepak bola diyakini bisa mengurangi tajamnya rivalitas, mengurangi ketegangan, dan membantu mengkomunikasikan pesan-pesan yang sulit dipahami. Jika perlu, sebelum pertandingan sepak bola dimulai diadakan terapi ketawa lewat gerakan senam atau peragaan lain. Sehingga ketegangan dan emosi penonton bisa dinormalisir. Pada saat ini ahli psikologi masa menyatakan bahwa humor mereprensentasikan aspek ide dan pemikiran yang cemerlang yang dibutuhkan pada era kompetisi yang sengit. Terapi ketawa terhadap suporter sepak bola yang dilakukan secara teratur bisa melahirkan situasi ceria, yang pada gilirannya bisa meningkatkan sportifitas dan kolaborasi yang lebih luas. Melalui terapi itu bisa di eksplorasi nilai-nilai kebajikan dari ketawa. Nilai-nilai kebajikan itu antara lain terlihat dalam riset yang dilakukan oleh Lee Berk yang menunjukkan bahwa ketawa dapat menurunkan hormon-hormon stres dan meningkatkan sistem kekebalan. Juga riset dari Robert Provine yang tergambar dalam bukunya berjudul “Laughter, A Scientific Investigation” yang menyajikan penjelasan yang mendalam tentang antropologi dan biologi ketawa. Dijelaskan bahwa ketawa mengandung manfaat aerobik. Juga mengaktifkan sistem saraf otak, meningkatkan kecepatan jantung, memompa darah ke dalam organ-organ tubuh bagian dalam. Diantara kita banyak yang kurang sadar bahwa kinerja atau denyut jantung dalam waktu sepuluh menit dengan mengayuh mesin olahraga elektronik setara dengan satu menit ketawa yang tulus saat menonton langsung pertandingan sepak bola. Paradigma membangun budaya baru sportifitas suporter sepak bola yang bisa menangkal kerusuhan sejalan dengan nilai-nilai yang dipromosikan oleh Komite Olimpiade Internasional. Bahwa partisipasi suporter yang sehat itu lebih penting dibandingkan dengan sebuah angka kemenangan.
Disisi yang lain, mesin pembangkit energi kolektif masyarakat Jabar yang bernama Persib telah berusia 75 tahun dan sudah melahirkan beberapa generasi bobotoh. Namun, generasi bobotoh sekarang ini dalam situasi disimpang jalan yang sangat riskan akibat akumulasi masalah sosial. Apalagi, pemerintah daerah masih belum mampu menyediakan SOR yang pantas bagi rakyatnya. (*)

*) Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat