Senin, 24 November 2008

Memperjuangkan kesejahteraan kaum penglaju yang terpaksa "tua dan menderita" di jalanan



Saatnya “Memanjakan” Penglaju Bandung Raya

Oleh HARJOKO SANGGANAGARA

Bandung bisa dikatakan merupakan kota metropolitan yang semu dan menyimpan segudang persoalan sosial yang bisa meledak setiap saat. Tak bisa dimungkiri, kota Bandung berkembang tanpa karakter yang jelas. Tekanan jumlah penduduk tidak disertai dengan pembangunan infrastruktur perkotaan yang memudahkan mobilitas pekerjaan, perumahan dan perjalanan bagi para penglaju. Bandung berkembang menjadi kota besar yang egois, karena kurang memperhatikan daya dukung kota-kota di sekitarnya seperti Kabupaten Bandung, Bandung Barat, dan Cimahi.

Kota Bandung yang ingin meraih predikat sebagai kota modern bisa terganjal tanpa daya dukung yang ideal dari kota-kota di sekitarnya. Apalagi, fenomena jentrifikasi (gentrification) sudah mulai tampak. Jentrifikasi merupakan fenomena dalam sebuah kawasan atau komunitas kota di mana warga miskin dan mereka yang lemah akses akan terdisplasi atau terpindahkan ke luar kota secara tidak manusiawi. Pakar perencanaan kota Neil Smith menyatakan bahwa jentrifikasi sebagai dua mata sisi pedang yang tajam. Di satu sisi jentrifikasi bersifat sebagai frontier untuk optimalisasi ruang kota. Dan di sisi lain jentrifikasi juga memicu ketimpangan pembangunan fisik, budaya, maupun sosial dalam ruang kota yang bisa memicu gejolak sosial yang sangat serius. Sebelum berubah menjadi “monster” yang kejam, proses jentrifikasi harus segera ditanggulangi dengan langkah konkrit. Antara lain dengan memperbaiki dan membangun infrastruktur bagi para penglaju. Sudah saatnya kita “memanjakan” penglaju di Bandung Raya dengan berbagai jasa dan pelayanan. Kawasan Bandung Raya yang dibelah oleh jalur kereta api yang membentang dari Cicalengka hingga Padalarang mestinya menjadi faktor penting untuk “memanjakan” para penglaju sehingga sehari-harinya mereka bisa beraktifitas secara nyaman dan efektif.
Sangat menyedihkan jika selama sepuluh tahun terakhir ini nasib para penglaju di Bandung Raya masih tetap merana karena belum ada kemajuan yang berarti dalam pembangunan infrastruktur. Fasilitas angkutan KA yang mestinya bisa menjadi solusi jitu ternyata masih dikelola secara tambal-sulam. Pemerintah Provinsi masih menutup mata dan belum berkontribusi secara konkrit terkait sistem transportasi KA komuter di Bandung Raya. Kondisinya semakin menyedihkan ketika kita menengok komplek-komplek pemukiman para penglaju di Kabupaten Bandung, Cimahi dan Bandung Barat. Kawasan yang dahulu menjadi “satelit” kota Bandung perkembangannya menjadi stagnan dan tengah mengalami kehancuran prasarana disana sini tanpa ada pihak yang mau bertanggung jawab. Begitu pula bagi para penglaju yang jauh dari jalur KA, mereka terpaksa naik angkot sambung-menyambung yang berakibat menguras isi dompet. Mestinya ada kebijakan pemerintah daerah yang berani menata kembali jalur atau trayek angkutan umum di Bandung Raya sehinga sesuai dengan kondisi masyarakat terkini. Kondisi jalur atau trayek angkutan yang semakin acak-acakan dan lepas kendali semakin membuat para penglaju menderita. Tanpa ada kebijakan yang “memanjakan” para penglaju di Bandung Raya, maka perkembangan Kota Bandung akan terus tersandera dengan berbagai masalah sosial.
Strategi pengembangan wilayah Bandung Raya khusunya kota Bandung mestinya menuju kearah metropolitan dalam arti yang sejati. Arah tersebut bersandar kepada istilah metropolitan yang mengambil kata dari sistem perkereta-apian komuter atau light train system. Sistem KA komuter yang baik akan memudahkan kota metropolitan menjadi pusat aktivitas yang mampu membagi fungsi keruangannya secara ideal. Sehingga terciptalah integrasi yang kokoh antar kawasan permukiman dan tempat kerja. Menurut pakar perkembangan kota Angotti, karakter kota metropolitan terlihat dalam tiga aspek yang ideal, yakni terciptanya mobilitas pekerjaan (employment mobility), mobilitas perumahan (residential mobility) dan mobilitas perjalanan (trip mobility). Mobilitas pekerjaan dicirikan dari mudahnya orang berpindah tempat kerja tanpa harus berpindah tempat tinggal karena lebih banyak jenis dan variasi pekerjaan tersedia di kota metropolitan. Mobilitas pekerjaan ini berkaitan dengan tersedianya modal dan mobilitas modal yang besar. Mobilitas tempat tinggal biasanya mengikuti perubahan tempat kerja. Perpindahan tempat tinggal ini tidak selalu karena keinginan sendiri, tetapi sering kali juga terjadi karena digusur oleh dinamika pembangunan. Mobilitas perjalanan lebih mudah dilakukan di metropolitan karena ketersediaan sarana transportasi yang berbasis KA komuter. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa karakter metropolitan dicirikan dengan adanya mobilitas dari modal dan tenaga kerja yang sangat tinggi. Apakah karakter tersebut sudah dimiliki oleh kota Bandung ?
Perencana dan pelaksana pembangunan kota mestinya memperhatikan secara seksama pembangunan kawasan asal para penglaju. Salah satu contoh kawasan asal penglaju di Bandung Raya adalah Kecamatan Rancaekek. Kita semua menjadi prihatin melihat kondisi Perumnas Bumi Rancaekek Kencana yang dahulu direncanakan menjadi semacam kota satelit. Namun, setelah 15 tahun berlalu masih tetap merana dan belum menjadi kawasan pemukiman yang nyaman. Bahkan, infrastruktur seperti jalan, saluran dan fasilitas umum lainnya banyak yang dibiarkan rusak karena tidak ada pihak yang bertanggung jawab. Setelah lama tinggal di Perumnas Rancaekek, mestinya para penglaju merasa lebih mudah beraktifitas. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Perbaikan pelayanan transportasi KA masih tetap terpuruk. Mestinya waktu tempuh Rancaekek ke kota Bandung dengan KA komuter cukup menyita waktu 20 menit saja. Nyatanya, para penglaju dari Rancaekek waktunya masih tersita lebih banyak lagi jika ingin menuju kota Bandung. Infrastruktur KA double track atau jalur ganda dari Stasiun Hall Bandung sampai Stasiun Cicalengka yang telah direncanakan sejak puluhan tahun yang lalu, hingga kini belum mampu diwujudkan. Begitu pula dengan kondisi fisik stasiun dan gerbong KA komuter seperti KRD Ekonomi dan Patas selama sepuluh tahun terakhir belum ada perubahan signifikan. Gerbong-gerbong yang sudah tua, kotor dan tidak aman itu masih menjadi pemandangan hingga kini. Mestinya Pemprov Jabar bersama dengan PT KAI segera membenahi stasiun KA yang menjadi kantong-kantong penglaju di sepanjang jalur antara Cicalengka dan Padalarang. Penataan stasiun dan penyediaan gerbong KA yang cukup sudah sangat medesak. Emplasemen seluruh stasiun KA mestinya ditata secara baik dan asri. Serta disterilkan dari aktifitas PKL sehingga tidak menjadi kumuh dan kotor. Untuk “memanjakan” penglaju yang terdiri dari para pekerja, PNS, profesional, pelajar dan mahasiswa, alangkah baiknya kalau di stasiun KA disediakan koneksi internet secara gratis dengan sistem Wajanbolic. Sistem Wajanbolic yang harganya murah itu mestinya tersedia di setiap stasiun KA. Agar para pengunjung stasiun atau orang-orang yang berada di radius satu kilometer dari stasiun KA dapat menadah WiFi ( wireless fidelity ) alias hot spot sehingga bisa mengakses jaringan intenet secara gratis sambil menunggu jadwal KA. Masih ada seribu satu cara untuk “memanjakan” para penglaju di Bandung Raya. Masalahnya, tinggal sampai sejauh mana empati dan kecerdasan dari pejabat daerah dalam memperbaiki nasib kaum penglaju yang setiap harinya harus berjuang.

*) Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat
**) Artikel diatas telah dimuat di koran KOMPAS, lembar Jabar 12 Nopember 2008

Mensejahterakan dunia dengan TERTAWA TULUS



Budaya Tertawa Tulus
Oleh : HARJOKO SANGGANAGARA *)


Tertawa merupakan obat yang paling ampuh dalam menghadapi krisis ekonomi global. Krisis menyebabkan rasionalitas menjadi tumpul dan kecemasan semakin menyembul. Tertawa yang berkualitas atau tertawa secara tulus menjadi urusan penting, baik secara pribadi, korporasi maupun dalam kepemimpinan bangsa. Begitu pentingnya makna tertawa tulus, sampai-sampai dalam kesempatan jamuan makan malam antara Presiden terpilih USA ke-44 Barack Obama dengan rivalnya John McCain menjadi tontonan kelas dunia yang sangat menarik. Dalam jamuan makan malam itu keduanya melontarkan humor-humor bermutu yang bisa meledakkan tawa. Bersamaan dengan itu para pakar psikologi menganalisa apakah senyuman kubu Obama dan McCain benar-benar tulus. Berbahagialah bangsa Amerika, karena kedua pihak yang sengit dalam persaingan Pilpres itu secara ilmiah terbukti benar-benar tertawa secara tulus.
Budaya tertawa tulus ternyata semakin penting bagi sektor korporasi, birokrasi dan edukasi pada saat krisis ekonomi seperti ini. Bahkan, menurut hasil riset kompetensi SDM oleh konsultan internasional yang bernama Hay Group menyatakan bahwa tipe kepemimpinan atau manajemen yang paling efektif pada era sekarang ini adalah yang sarat humoris dan bukan eksentrik. Tak pelak lagi, budaya tertawa tulus telah menjadi obat penawar krisis ekonomi global. Sebagai catatan, pada saat depresi ekonomi dunia tahun 30-an Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt begitu getolnya menumbuhkan budaya tertawa di tengah bangsanya. Roosevelt juga memberikan peran yang luas kepada para seniman dan budayawan untuk menghibur sekaligus menumbuhkan optimisme rakyat. Antara lain aktor besar Charlie Chaplin yang sangat berperan menghalau hantu malaise dan membentang cakrawala baru. Hal serupa juga pernah dilakukan di Indonesia ketika menghadapi krisis pangan pada tahun 70-an. Lagu ”Ayo Ngguyu” ( Ayo Tertawa ) yang dinyanyikan oleh biduan legendaris Waljinah telah menjadi spirit bagi masyarakat, utamanya kaum tani untuk bekerja keras mewujudkan swasembada pangan atau beras. Lagu ”Ayo Ngguyu” yang tak henti-hentinya berkumandang di pedesaan dan perkotaan itu telah mendorong berkembangnya budaya tertawa tulus dan pada gilirannya telah mewujudkan rasa tentram dan percaya diri. Kondisinya sangat berbeda dengan saat ini, dimana para petani terus didera gundah gulana akibat sederet persoalan seperti merosotnya daya beli, kesulitan benih dan pupuk dan bencana alam. Orang di desa telah kehilangan budaya tertawa tulus. Ironisnya, pemerintah justru mengganti budaya itu dengan iklan layanan di TV berupa eufimisme program pemberdayan masyarakat yang terlihat klise dan bombastis.
Selain menghadapi krisis dengan instrumen keuangan dan inovasi produk, perusahaan multinasional sekarang ini juga telah menggencarkan budaya tertawa tulus. Terapi tertawa, senam tertawa, dan eksploitasi humor telah menjadi trend di perusahaan multinasional. Dalam konsteks tersebut terlihat adanya transformasi budaya kerja dari yang serba kaku dan terburu waktu, menjadi ruang atau situasi kerja yang mampu berbagi emosi. Salah satu fenomena diatas terlihat di industri automotif Ford’s River Rouge. Beberapa waktu yang lalu, tindakan tertawa ( termasuk bersenandung, bersiul, dan tersenyum ) yang dilakukan oleh karyawan merupakan sebuah kesalahan atau indisipliner yang harus diberi sangsi. Cukup banyak karyawan Ford yang dipecat gara-gara kepergok sedang tertawa bersama kawan-kawannya. Disiplin manajerial yang kaku itu adalah refleksi dari gaya manajemen Henry Ford. Namun, pada era sekarang ini, dimana industri automotif sedang terancam kebangkrutan menimbulkan depresi yang menghantui pabrik Ford River Rouge. Ternyata, terapi tertawa untuk memelihara produktivitas dan stamina beban kerja menjadi sangat penting. Budaya tertawa tulus bagi kemajuan korporasi hasilnya sangat positif. Salah satu contohnya adalah perusahaan penerbangan Southwest Airlines yang sudah cukup lama mendorong budaya tertawa dalam mengelola SDM. Para pilot, pramugari hingga teknisi yang sehari-harinya didera beban kerja dengan impact yang sangat tinggi mampu bersinergi secara baik dengan terapi tertawa sebelum menjalankan tugas. Hasilnya, perusahaan itu sekarang ini masih bisa survive dan berkinerja sangat baik. Dilain pihak, para pesaingnya banyak yang di tepi jurang kebangkrutan. Terapi tertawa juga sangat berguna bagi profesi kedokteran. Para dokter banyak yang belajar terapi tertawa dan terus menambah perbendaharaan humornya untuk menghadapi pasiennya. Apalagi fakta menunjukkan bahwa banyak pasien yang sembuh lebih cepat ketika mereka sering tertawa dengan tulus. Ikwal tertawa pada saat ini mendapat porsi yang sangat berarti dalam penyelidikan pikiran atau otak manusia. Bahkan perguruan tinggi terkemuka di dunia seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT) sedang gencar melakukan riset mengenai budaya tertawa.
Untuk mendorong budaya tertawa para pemimpin mempunyai tanggungjawab tertawa tiga kali lebih banyak. Secara ilmiah tertawa tulus sangat berbeda efek dan maknanya dengan tertawa palsu. Tertawa tulus sangat berguna untuk memompa motivasi diri, terapi penyembuhan jasmani dan rohani, serta obat pengusir stress atau depresi yang paling ampuh. Tertawa tulus bisa dideteksi secara ilmiah, begitu pula dengan tertawa palsu. Tertawa tulus atau senyuman sejati oleh pakar psikologi Ekman disebut dengan istilah tertawa “Duchenne”. Istilah tersebut diambil dari nama seorang neurologis asal Perancis Duchenne de Boulogne. Yang melakukan riset pertama dalam bidang tersebut pada 1980-an. Teorinya menyatakan bahwa senyuman yang tulus melibatkan secara simultan dua otot wajah : yakni otot zygomatic major, yang memanjang dari tulang pipi dan mengangkat sudut-sudut mulut. Dan yang kedua bagian luar dari otot obicuralis oculi, yang mengelilingi mata, dan terlibat dalam “menarik ke bawah alis mata dan kulit di bawah alis mata, dan menarik ke atas kulit di bawah mata, dan mengangkat pipi-pipinya.” Tertawa atau senyuman yang artificial alias palsu hanya melibatkan otot zygomatic major. Tesis menyatakan bahwa kita dapat mengontrol otot itu, namun kita tidak dapat mengontrol bagian yang relevan dari otot obicuralis oculi. Karena otot itu berkontraksi secara spontan alias tidak bisa dimanipulasi, dan hanya ketika kita benar-benar mengalami “kesenangan” otot itu akan bergerak. Duchenne menyimpulkan bahwa emosi dari kesenangan yang jelas diekspresikan pada wajah oleh kontraksi gabungan antara otot zygomatic major dan obicuralis oculi. Yang pertama mematuhi keinginan kita, namun yang kedua hanya dimainkan oleh emosi-emosi yang manis oleh misteri jiwa.
Dalam krisis ekonomi global sekarang ini tertawa merupakan virus yang sangat berguna. Oleh sebab itu perlu tercipta epidemi tertawa yang bisa menjaga kesehatan, bahkan tidak mustahil bisa menciptakan perdamaian dunia. Ada yang berpendapat bahwa urang Sunda sekarang ini semakin sulit tertawa. Padahal, urang Sunda umumnya tergolong tukang heureuy. Ada apa dengan si tukang heureuy ? Ayo, tertawa tulus ! Dunia belum kiamat.

*) PENULIS, Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jabar.

Generator sosial urang Sunda tinggal satu, PERSIB !!!




Menyongsong PERSIB Incorporated
Oleh : Harjoko Sangganagara


PERSIB akan melangkah menjadi badan hukum yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Dengan demikian Persib akan menjadi korporasi atau perusahaan yang sahamnya bisa dimiliki oleh publik. Hal diatas membawa risiko bahwa Persib Incorporated harus dikelola lebih profesional dan berkinerja tinggi. Pasalnya, sebagai korporasi dirinya harus mempertanggung jawabkan kinerja lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Publik akan bersemangat membeli saham Persib Incorporated jika ada gambaran atau prospektus yang baik dan meyakinkan. Selain budaya kerja korporasi, budaya bobotoh Persib juga menjadi faktor yang sangat penting. Budaya bobotoh Persib seperti kadar sportifitas dan kreativitas mesti diperbaiki agar nilai saham Persib Incorporated tidak terpuruk.

Jaman sekarang ini sepak bola adalah industri yang luar biasa nilai tambahnya. Tak mengherankan jika banyak investor berani membeli klub sepak bola dengan harga yang fantastis. Yang menjadi pertanyaan penting adalah, apakah dengan membeli klub sepak bola otomatis juga “membeli” suporternya ? ..............................................................

( Telah dimuat koran TRIBUN JABAR, 16 Nopember 2008 )

Jumat, 24 Oktober 2008

Infrastruktur Penentu Kebangkitan Bangsa



Merisaukan Kualitas Proyek Infrastruktur

Oleh HARJOKO SANGGANAGARA


Pembangunan proyek infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun daerah banyak yang mengalami kemacetan akibat fluktuasi harga bahan baku konstruksi. Tak henti-hentinya para kontraktor berteriak agar pemerintah memberikan insentif kepada mereka. Lalu, pemerintah menurunkan dua skim eskalasi proyek dengan cara optimalisasi anggaran dan penyesuaian volume projek. Optimalisasi anggaran akan diberikan dalam setiap pos anggaran masing-masing proyek. Optimalisasi anggaran itu pada prinsipnya memakai SAL ( sisa anggaran lebih ) yang tidak digunakan pada tahun anggaran berjalan. Bila sisa anggaran dalam satu projek tidak mencukupi kebutuhan eskalasi, pemerintahpun masih bermurah hati karena membolehkan pengurangan volume proyek. Kondisi itu tentu saja bisa berdampak negatif karena akan mengorbankan kualitas proyek. Yang pada gilirannya sangat merugikan kepentingan publik dan memberatkan keuangan negara. Karena dikemudian hari dirongrong oleh biaya perawatan yang semakin tinggi ( sering ) akibat kondisi infrastruktur yang mudah rusak.

Sangat menyedihkan jika kita sering menutup mata sehubungan dengan banyaknya kasus proyek infrastruktur yang berkualitas rendah. Ironisnya, kerisauan terhadap kualitas proyek infrastruktur di negeri ini justru sering dilakukan oleh pihak asing. Salah satunya ditunjukkan oleh Presiden Bank Dunia, Paul Wolfowitz. Bahkan kepada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dirinya mengeluh karena banyak bantuan dari Bank Dunia yang dialokasikan untuk proyek infrastruktur yang terkena biaya tinggi alias terlalu mahal. Sudah begitu masih disertai dengan kebocoran besar dan penyimpangan prosedur, norma dan standar teknik sehingga menghasilkan infrastruktur atau bangunan konstruksi yang berkualitas rendah. Sebagai contoh proyek pembangunan ruas jalan yang dibiayai dari bantuan Bank Dunia yang dirancang untuk masa pakai sekitar 10 tahun, nyatanya baru berumur satu tahun sudah mengalami kerusakan berat. Karena itulah Bank Dunia dan lembaga internasional lainnya sangat mendorong terbentuknya Independen Monitoring Unit untuk mengawasi proyek-proyek infrastruktur hingga kepelosok daerah. Dalam lembaga independen itu para anggotanya diberi pengetahuan tentang audit forensik (forensic auditing). Agar mereka bisa mengungkap penyimpangan dari segi kualitas dan spesifikasi teknik. Mestinya segenap bangsa ini harus malu, karena lembaga internasional sudah cukup lama menyatakan bahwa kegagalan atau kesulitan bangsa Indonesia membangun infrastruktur yang memadai disebabkan lemahnya profesionalitas para pelaksana dan pengawasan proyek. Serta maraknya praktek korupsi dan persaingan usaha yang tidak sehat. Salah satu cara untuk menepis kerisauan terhadap kualitas proyek infrastruktur adalah meningkatkan profesionalitas entitas kontraktor. Juga perlunya menumbuhkan budaya mutu dalam pembangunan infrastruktur di daerah. Pemerintah daerah hendaknya mengutamakan faktor kualitas pembangunan infrastruktur dari pada sekedar target seremonial politik. Acap kali pemeritah daerah ”mengebut” pengerjaan proyek infrastruktur hanya gara-gara ”kejar tayang” kepentingan politik praktis atau perayaan hari-hari besar. Akibatnya kualitas proyek dinomor duakan.
Tidak berlebihan jika ada yang berpendapat betapa enaknya jadi kontraktor di negeri ini. Selain bisa main-mata tentang aturan tender, kepentingan mereka juga selalu diakomodir oleh pemerintah. Sudah saatnya bangsa ini mendewasakan entitas kontraktor dengan cara meningkatkan profesionalitasnya. Lebih-lebih, selama ini rakyat acap kali dibuat jengkel karena ulah para kontraktor yang seenaknya mengganggu kepentingan publik saat mengerjakan proyek. Seperti misalnya kasus penggalian di pinggir jalan atau fasilitas publik yang tidak mengindahkan faktor keselamatan dan kenyamanan. Kalau sudah demikian tidak ada pihak yang kredibel untuk menindak ulah kontraktor diatas. Akhir-akhir ini kejengkelan rakyat juga timbul akibat arogansi sejumlah perusahaan konstruksi yang terlibat dalam pembangunan megaproyek PLTU 10 ribu Megawatt. Mereka menghentikan proyek secara sepihak lalu menuntut eskalasi proyek sebesar 30 persen. Padahal, harga proyek diatas sejatinya sudah terlalu tinggi. Mestinya, kasus diatas diproses secara hukum tanpa pandang bulu. Ada masalah serius dalam entitas kontraktor di negeri ini yang berkaitan dengan aspek Quantity Surveyor. Hal tersebut menyebabkan lemahnya estimasi waktu dan biaya proyek. Serta buruknya risk management dan durasi proyek. Entitas kontraktor di negeri ini juga masih lemah dalam menyusun work breakdown structure (WBS) yang merupakan detail daripada proyek. Oleh sebab itu perlunya memperdalam kompetensi seperti disyaratkan dalam buku “Guide to the Project Management Body of Knowledge”. Atau yang lebih populer dengan sebutan Abbreviation PMBOK Guide yang diterbitkan oleh The Project Management Institute.
Entitas kontraktor di negeri ini mestinya memiliki kemampuan yang handal dalam hal perhitungan biaya dalam rangka menjamin akurasi harga penawaran dan terciptanya kualitas proyek. Pada saat ini kompetensi menghitung biaya proyek dari entitas kontraktor di negeri ini masih banyak yang lemah. Apalagi masih sedikitnya tenaga di bidang Quantity Surveyor yang tugas utamanya adalah menyangkut perhitungan dan analisa biaya proyek. Sekedar catatan, bahwa profesi bidang Quantity Surveyor sendiri di negeri ini masih belum banyak dikenal. Tetapi bukan berarti fungsi bidang tersebut selama ini tidak dilakukan, tetapi dengan istilah lain yang lingkupnya lebih sempit yang biasa disebut estimator. Istilah Quantity Surveyor berasal dari Inggris, lalu meluas sebagai bidang profesi yang diakui secara internasional. Di negara maju Quantity Surveyor juga biasa disebut dengan istilah Construction Economists, Cost Consultans, atau Cost Engineers. Secara garis besar lingkup pekerjaannya meliputi estimate and monitoring construction cost dari tahap awal sampai tahap akhir. Melakukan tender dan menetapkan jenis kontrak. Menghitung potensi reduksi pajak konstruksi dan nilai klaim asuransi. Serta menjalankan mediasi dan Arbitrase jika terjadi sengketa proyek. Sesuai dengan lingkup diatas maka peran spesifik dari seorang Quantity Surveyor selama tahapan proyek dapat dijelaskan sebagai berikut; Dari tahap feasibility study menuju tahap Desain yakni melakukan value engineering terhadap desain yang ada. Kemudian menekan biaya proyek tanpa mengurangi tujuan dan fungsinya. Juga mempersiapkan Bill of Quantities dan menyusun biaya. Tahap procurement atau pengadaan berupa penyiapan dokumen pra qualifikasi atau tender dan menghitung penawaran tender yang paling kompetitif. Kemudian tahap construction hingga tahap pasca construction. Semua tahapan diatas musti terkelola sesuai dengan standar internasional.
Kemajuan di bidang manajemen proyek yang sangat pesat dewasa ini membuat aspek estimasi terjadi persenyawaan antara construction economists dengan aspek seni. Hal itu sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa estimasi proyek merupakan sebuah seni tersendiri. Namun demikian, kualitas estimasi, durasi dan analisa biaya masih tetap menjadi faktor keberhasilan dalam mengelola proyek. Kualitas estimasi dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti personalia, teknologi, dan downtime. Dalam mengerjakan proyek yang berskala besar entitas kontraktor juga harus memahami apa yang disebut sebagai maturity model atau model kedewasaan dalam rangka menciptakan kualitas yang paripurna. Pada awalnya model tersebut penerapannya terbatas dalam bidang teknologi informasi dan telekomunikasi. Namun, belakangan ini model tersebut penggunaannya semakin meluas dalam proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur.

*) Budayawan, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat
**) Artikel telah dimuat di harian KOMPAS, 22 Oktober 2008

Casuarina Equistifolia Linn termasuk dalam famili Casuarinaceae


Merupakan tanaman yang ideal untuk taman kota dan perumahan. Jika rambutnya sering di rebonding dan tubuhnya dibentuk lewat “tari balet” maka si gadis pantai itu harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Keperkasaannya juga mampu menahan ombak pantai, badai gurun dan prahara gunung, ..........

Gadis pantai yang senang berdesir dan melambai itu bernama Casuarina EL alias Cemara Udang.


Dia adalah lambang keteguhan dan kesejukan. Pantas dimuliakan karena mengandung segudang keindahan dan sederet filosofi kehidupan.

Minggu, 14 September 2008

The Method of Cadre Character Development of Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) in Building the spirit of Nationalism


THE ABSTRACT

Harjoko Sangganagara B. Sugiatmo. The Method of Cadre Character Development of Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) in Building the spirit of Nationalism in the Globalization Era (The Descriptive Analytic Study to the Cadre Course Participants Held by the Training and Education Board of The Indonesian Democratic Party of Struggle (PDI Perjuangan) of the Province of West Java Chapter).
The advent of the program on character building through cadre regeneration at the Indonesian Democratic Party of Struggle for West Java Chapter is regarded as a response toward a disparity between the demand for development and the party’s capability owing to the scarcity of the cadres who have intelligent traditions and statesmanship with ideology concerns; conscience and political understanding; the party awareness; as well as higher social and environmental awareness.
To overcome the problems, it is necessary to make the program of the party’s cadre character building which is materialized by instilling the Indonesia Five Fundamental Principles (Pancasila) ideology in the nation building. The regeneration is conduct at the Training and Education Board of the Indonesian Democaratic Party of Struggle of West Java Chapter in Bandung periodically.
This move was based on the decision of the First Congress of the Party (PDI Perjuangan) held ini Semarang to prepare the Party members to be the cadre through a special training and education. Cadres are those who are posted at the structural party, governance, both executive and legislative, as well as functional tasks.
Such a cadre position is a novel strategy in character development through nation building by recruiting the education participants across the regencies and cities in West Java. Next, they are educated and updated in the hope to improve the human resource which has the national horizons with curricular materials comprising : Pancasila ideology, Indonesian Political Economic Social and Cultural Systems (Trisakti), National History and History of Political Parties in Indonesia, Leadership and Management Organization, Political Communication and a set of Outbound activities.
The study was conducted through : (1) observing the learning process in conjunction with character development at Badiklat PDI Perjuangan of West Java ; (2) observing the training and educations participants; and (3) observing the national development in the use of interview and observation method.
The efforts of character development can be realized to generate the cadre participants. The training and education participants who returned to their districs and hometowns may bring with them some positive effects for the national life and party despite some weaknesses that need further study. Therefore, the character building of the cadres should be improved when necessary.